ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Dokter Milenial Termuda, di Usia 20 Tahun

13 Desember 2019
Dokter Milenial Termuda, di Usia 20 Tahun
Syuna Salimdra (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Nama Syuna Salimdra kini populer lantaran pria asal Banjarmasin ini, dinobatkan sebagai dokter termuda di Indonesia. Di usianya yang masih 20 tahun ia profesi 'dokter milenial' telah diraihnya. Ia pun hadir diantara 67 lainnya yang telah menuntaskan pendidikan profesi dokter di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Putra pasangan Buntoro Salimdra dan Marzuqoh ini tak hanya menjadi dokter termuda, namun dokter yang lahir pada 8 Mei 1999 ini berhasil meraih nilai terbaik UKMPPD Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan nilai 42,08 bersama dr. M. Ilham Akbar.

Sedangkan untuk UKMPPD Computer Based Test (CBT) terbaik diraih oleh dr. Rika Oktania Sari dan dr. Nungki Samahah Kurniawati dengan nilai 88,5. Untuk nilai IPK profesi terbaik dengan nilai 3,80 diraih oleh dr. Dzaky Ramadhan Hidayat. Angka kelulusan periode ini cukup memuaskan yaitu 93%, dan saat ini FK UMM tercatat telah meluluskan 1.269 dokter.

Selama proses pendidikan profesi, dokter yang hobi mendengarkan musik ini sempat mengalami kesulitan. Namun berkat usaha disertai dorongan orang tua dr. Syuna mampu melalui kendala tersebut. “Stase yang paling berat menurut saya adalah stase Puskesmas, karena tugasnya yang cukup banyak ditambah dengan jadwal jaga yang padat. Tapi, alhamdulillah, semua sudah terlewati.” Tuturnya.

Cita-citanya menjadi dokter sudah muncul sejak kecil. Dia mengaku intensitasnya sering bertemu dengan dokter anaklah yang membuatnya tertarik menjadi dokter. Kini mimpi telah tercapai. Dia berharap bisa menjadi dokter yang berguna bagi banyak orang, yang benar-benar membantu orang lain dengan keilmuan yang dimiliki, serta membuat bangga keluarga, teman, dan kerabat.

Proses akademiknya berlangsung cepat karena ia mengikuti kelas akselerasi dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Kemantapannya memilih Fakultas Kedokteran (FK) sudah ia tetapkan sejak duduk di bangku SMA.

Bagi Syuna, dokter merupakan pekerjaan sangat mulia karena bisa menolong banyak orang. “Saya melihat dokter dapat menyelamatkan hidup banyak orang, dari situ kemudian ketertarikan saya dimulai,” ungkapnya.

Ketika SMA, dia mengaku tak ada metode khusus dalam belajar, selain rajin dan tekun. Ketika memasuki perguruan tinggi, tempo belajarnya ia sesuaikan. Selama lima semester, dia dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium skill FK UMM. “Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajar bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anastesi ini.

Syuna membuat tugas akhir dengan mengangkat fenomena penjual makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng. Dengan mengangkat judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Perbaikan Histopatologi Sel Hepar Tikus Putih Yang Diinduksi Minyak Jelantah”. Dia mencoba meneliti kerusakan hati yang disebabkan konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah.

Pria yang sempat aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMM ini menjelaskan, penelitiannya ini bisa dimanfaatkan untuk manusia. Menurutnya, hati tikus memiliki kerja yang sama dengan hati manusia. Jika konsumsi minyak jelantah secara terus menerus dapat merusak hati tikus, maka juga dapat merusak hati manusia. “Jika ekstrak daun pepaya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati tikus maka demikian halnya pada hati manusia,” ujarnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR