ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

100 Pelajar Gaungkan Kembali Pembelajaran PMP

16 Desember 2019
100 Pelajar Gaungkan Kembali Pembelajaran PMP
Deklarasi 1000 Pelajar (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pendidikan Moral Pancasila (PMP), salah satu matapelajaran wajib pada era 1980-an, kembali menjadi topik pembahasan. Para akademisi dan politisi kerap menyampaikan hopitesis bahwa paham radikal yang ramai belakarang ini, berkembang salah satunya karena PMP tidak lagi menjadi salah satu fokus pembelajaran di sekolah.

Kini gaung pemberian matapelajaran di sekolah kian kencang berhembus. Salah satunya dari para pelajar daerah ini.  Lebih dari 1000 pelajar yang berasal dari 28 SMA/SMK di Kabupaten Serdang Bedagai mendeklarasikan kerinduannya terhadap Pendidikan Moral Pancasila  di acara Seminar Nasional Kita Pancasila dengan Tema Penanaman Nilai-nilai Pancasila sejak Dini dalam Mencegah Paham Radikalisme dan intoleransi di Tanah Negeri Beradat.

Acara yang diselenggarakan oleh Rumah Aspirasi Milenial ini juga di hardiri oleh Wakil Bupati Serdang Bedagai Darma Wijaya, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila  Antonius Benny Susetyo, Kapala Subdirektorat Intelkam Polda Sumatera Utara Ahyan, TGB Ahmad Sabban El Rahmany Rajagukguk, serta perwakilan dari camat dan kepala desa se-Kabupaten Serdang Bedagai.

Dalam sambutannya Fouder RAM Elvi Yuliana menjelaskan tujuan diselenggarakannya seminar nasional adalah untuk mumbuhkan kesadaran dan generasi milenial menjadi motor penggerak dalam pembumian Pancasila. "Tujuannya untuk menambah kesadaran generasi milenial serta masyarakat luas dan mejaga Pancasila. Generasi milenial juga harus jadi motor penggerak dan menjadi contoh dalam pembumian Pancasila," tutur Elvi.

Wakil Gubernur Kabupaten Serdang Bedagai Darma Wijaya dalam sambutan menjelaskan bahwa penanaman ideologi Pancasila harus ditanamkan sejak dini. "Penanaman Ideologi Pancasila harus dilakukan sejak dini. Hal ini bertujuan untuk mencegah bibit-bibit intoleransi dan radikalisme," kata dia.

Selain itu, Darma Wijaya juga menegaskan bahwa generasi milenial harus bisa membangun benteng yang kokoh dalam menangkal efek negatif dari kemajuan era digital saat ini.

Kapala Subdirektorat Intelkam Polda Sumatera Utara Ahyan menjelaskan bahwa penyebaran radikalisme mudah dilakukan di era digitalisasi. "Di eradigitalisasi seperti sekarang sangat mudah dilakukan baik melalui media cetak maupun elektronik," kata dia.

TGB Ahmad Sabban menegaskan bahwa masyarakat Indonesia harus Ukhwah Wathaniyah yaitu menjaga kerukunan bernegara bersaudara sesama manusia. "Harus Ukhwah Wathaniyah yaitu kita semua bersaudara dengan sesama manusia. Satu indonesia," kata dia.

Selain itu, dirinya juga menjelaskan bahwa generasi milenial harus mampu memfilter segala informasi yang didapatkan khususnya di era digital sekarang ini. "Generasi milenial harus mampu memfilter informasi yang masuk tidak boleh menerimanya mentah-mentah. Hentikan hoax dan berita bohong dan merugikan masyatakat," kata TGB Ahmad Sabban

Senada dengan hal tersebut Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Antonius Benny Susetyo juga menegaskan bahwa generasi milenial harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dengan konten positif. "Generasi milenial harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi dengan konten positif yang menarik, informatif, dan edukatif," kata Benny.

Benny menambahkan seluruh anak bangsa harus menampilkan konten positif yang bisa merepresentasikan keindahan perbedaan, kebudayaan, dan kebudayan dan melawan semua dampak negatif yang tidak Pancasilais.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR