ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Pengabdian Melawan Buta Aksara di Tanah Papua

08 Januari 2020
Pengabdian Melawan Buta Aksara di Tanah Papua
Melawan buta aksara (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pengabdian Hugo Gian Trendi Virgiawan pada dunia pendidikan layak mendapatkan apresiasi. Dengan misi pelayanan, pria ini berkarya sebagai pendidik di Desa Tsinga, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Timika, Papua. Tanah Papua memanggilnya mengabdi sebagai pelita ilmu untuk membawa terang bagi masa depan anak-anak Papua. Sesuatu yang telah dicita-citakannya semasa kuliahnya dulu.

Setahun lalu, Hugo yang telah menyelesaikan program sarjana komunikasi di Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, Hugo pun meminta restu kepada orang tuanya untuk pergi ke Tanah Cenderawasih. Bulan pertama cukup menantang bagi Hugo. Pasalnya, tak mudah bagi masyarakat di Papua menerima kehadirannya. Apalagi, Hugo tidak bisa berbahasa daerah setempat. Kesabaran dan keteguhan hati pun menjadi senjata pamungkasnya. Meski sempat mendapatkan penolakan dari beberapa pihak di pedalaman, tapi pendekatan personal dan keramahan terus dipupuk Hugo.

Pada Januari 2018, Yayasan Generasi Amungme Bangkit menjadi wadahnya mengajar. Masalah bahasa masih menjadi kesulitan yang dihadapi Hugo saat berkomunikasi dengan para siswa Sekolah Dasar (SD) di kelasnya. Maklum, siswa-siswa di sana hanya mengenal bahasa ibu mereka dan Bahasa Indonesia masih menjadi bahasa asing. Sempat juga, Hugo dibantu oleh siswa lain sebagai penerjemah. "Anak-anak di sini hanya bisa berkomukasi dengan sesama suku. Kalau beda suku, maka beda bahasa juga. Saya memotivasi anak-anak untuk menuntut ilmu sampai ke Pulau Jawa dan ke Toraja. Apabila ingin sekolah tinggi, maka harus bisa Bahasa Indonesia," kisahnya.

Bagi Hugo, anak-anak di pedalaman pegunungan Desa Tsinga masih sangat polos dan jauh berbeda dengan di perkotaan yang, tak jarang, mulai mengonsumsi minuman keras. Dia ingin menjaga kebaikan tetap melekat pada anak-anak di desa itu.

Desa Tsinga dapat ditempuh dengan waktu 30 menit dari Timika menggunakan helikopter. Setiap awal semester, helikopter menjemput guru-guru yang bertempat tinggal di Timika dan menurunkan mereka di Desa Tsinga. Helikopter pun akan kembali menjemput apabila ujian semester dan pembagian rapor selesai.

Meski berangkat ke Papua karena keinginan sendiri, tapi Hugo mengaku sempat merasa hidup terasing di provinsi itu. Tak ada aliran listrik 24 jam seperti yang dinikmatinya di Jawa. Padahal, listrik sangat berperan penting untuk proses mengajar kreatif.

Penduduk di Desa Tsinga hanya mengandalkan generator. Namun, generator yang ada cukup sering rusak dan biasanya butuh waktu sepekan untuk memperbaikinya.
Hugo menuturkan dalam berkisah tentang dunia di luar Papua, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan gairah para siswa dalam belajar sekaligus melatih kemampuan mereka berbahasa Indonesia.

Suatu ketika, dia mencetak foto pantai sebagai alat peraga di dalam kelas. Ternyata, tak ada satupun siswa yang tahu apa nama lokasi di foto itu. "Pantai. Ini adalah pantai," ungkap Hugo. Siswa-siswa di kelas yang diampuh oleh Hugo takjub. Penuh tanya. "Bapak, airnya itu banyak sekali. Bisa diminum e?," Hugo lantas menjelaskan bahwa air laut memiliki rasa yang asin dan bagaimana proses terjadinya hujan dengan media ajar tersebut.

Saat ini, ada 100 siswa yang menempuh pendidikan di yayasan tempat Hugo mengajar. Dia menilai tantangan dan pekerjaan rumah terbesar untuk meningkatkan pendidikan di Papua adalah menciptakan sistem yang mendukung pendidikan.

Menurut Hugo, sistem pendidikan sebenarnya sudah tercipta tapi sistem pendukung untuk menjaga pendidikan berlangsung mesti tetap ada. Apalagi, dengan tingkat kesadaran yang masih sangat rendah dan munculnya konflik sosial di desa. Sebagai contoh, Yayasan Generasi Amungme Bangkit memiliki taman baca masyarakat Joronep. Sarana tersebut dimaksimalkan oleh Hugo dengan mengajak anak-anak yang putus sekolah untuk membaca, berimajinasi, bercerita, dan bermain peran.

Buku-buku di taman baca tersebut menjadi senjata ampuh untuk menggugah niat anak-anak yang putus sekolah kembali menempuh pendidikan. Dia mengatakan ada sekitar 23 anak di Desa Tsinga yang sudah putus sekolah dan setelah mengikuti kegiatan di taman baca, mereka kembali ingin bersekolah. "Karena kesadaran untuk sekolah masih rendah, maka sarana pendukung untuk menciptakan pendidikan yang menarik harus terus ada," tutur Hugo.

Saat ini, koleksi buku di taman baca masih 500 judul, terdiri atas 80 persen buku anak-anak dan 20 persen buku dewasa. Hugo ingin taman baca tersebut memiliki koleksi buku baca anak-anak yang bervariasi. Di sisi lain, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat setidaknya ada 7.800 taman baca masyarakat di Indonesia. Sebaran paling banyak berada di Pulau Jawa, sedangkan jumlah paling sedikit ada di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR