ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Murid-Murid Sekolah Cikal Tunjukkan Hasil Merdeka Belajar

30 Januari 2020
Murid-Murid Sekolah Cikal Tunjukkan Hasil Merdeka Belajar
Primary Years Program (PYP) Exhibition (Ist)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Sebagai pegiat pendidikan, Najelaa Shihab mengatakan bahwa Indonesia pada dasarnya memiliki tujuan yang besar dalam hal pendidikan, yakni bukan hanya sekadar pencapaian intelektual atau memastikan pekerjaan, tetapi juga menumbuhkan potensi manusia secara utuh dalam berbagai aspek perkembangan. Menumbuhkan potensi manusia yang utuh, bagi Najelaa, memerlukan adanya komitmen merdeka belajar, baik meliputi proses belajar-mengajar yang merdeka, dimana murid mampu menumbuhkan komitmen yang berkelanjutan, dan mampu memahami tujuan belajarnya secara mandiri.

Sejalan dengan Najelaa yang menyuarakan gagasan merdeka belajarnya, Sekolah Cikal pada tahun ini kembali mengadakan Primary Years Program (PYP) Exhibition, sebuah pameran karya merdeka belajar murid-murid kelas 5.

Kegiatan yang akan diselenggarakan di Sekolah Cikal Cilandak pada 29-30 Januari 2020 ini merupakan bagian dari asesmen pembelajaran di sekolah yang tidak berbentuk soal pilihan ganda, atau pun diukur dengan angka-angka. Kegiatan ini berbentuk proyek kulminasi yang dibuat melalui riset data dan diakhiri dengan presentasi.

Dengan mengusung tema Sharing the Planet di tahun ini, Sekolah Cikal tidak hanya memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kompetensi diri, tapi juga menumbuhkan kemauan untuk turut andil mendukung 17 tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap pembangunan berkelanjutan di dunia (Sustainable Development Goals) melalui slogan ‘Together We Can Change the World’.

Dari Masalah Kualitas Pendidikan hingga Perubahan Iklim

Sebagai asesmen pembelajaran di sekolah, murid-murid mempersiapkan proyek mereka dengan antusias dan menunjukkan komitmen selama 3 bulan dengan menggunakan kerangka Proses Berpikir Desain (Design Thinking Process) yang dimulai dari empati, definisi, memunculkan ide, tes, dan prototyping.

Marsaria Primadona (Pima), selaku koordinator pelaksana PYP Exhibition, mengungkapkan bahwa PYP Exhibition ini adalah pameran hasil merdeka belajar yang berasal dari isu lingkungan sekitar.

“PYP Exhibition ini merupakan sebuah proses penelitian yang melibatkan penemuan isu dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan memikirkan solusi yang dapat dilakukan sebagai kontribusi kepada masyarakat.” imbuh Pima.

Melalui tema Sharing the Planet, murid-murid mengangkat isu di sekitar mereka yang didasarkan pada 17 tujuan pembangunan berkelanjutan PBB. Pelbagai masalah yang diangkat oleh murid antara lain, masalah lingkungan, yang mencakup pencemaran air (Water Pollution), isu sampah di laut (Ocean Waste), dan limbah pabrik (Factory Waste).

Terdapat pula, isu kemiskinan (Poverty), Bencana Alam (Natural Disaster), pengungsi (Refugee), Pemerataan Pendidikan (Educational Equality), Kesehatan (Health Nutrition), Perubahan Iklim melalui isu penebangan hutan liar (Deforestation) dan berbagai masalah yang terjadi di dunia.

Beberapa proyek merdeka belajar murid kelas 5 Sekolah Cikal datang dari Sami Syadli yang membahas mengenai manajemen penanggulangan bencana (Natural Disaster Management), Liam Anakedwa yang mengusung tema Zero Food Waste, dan Athaya Dini Khairunnisa yang menyuarakan Education for all.
Pima memaparkan bahwa murid-murid telah melakukan beberapa tahapan riset, termasuk bertemu ahli di bidangnya dalam membahas isu-isu terkait.
“Murid-murid Kelas 5 telah melewati proses analisa masalah, pencarian data, membuat kesimpulan, dan melakukan aksi yang merupakan usaha untuk penanggulangan dari isu yang diangkat.” ujarnya.

Pengembangan Kompetensi yang Menginspirasi

Sebagai bentuk pembelajaran inkuiri transdisipliner, PYP Exhibition memunculkan semangat individu dan berkelompok, yang mengedepankan elemen ilmu pengetahuan, konsep pembelajaran, keterampilan, perilaku, dan juga aksi nyata. 

Murid-murid tidak lagi dituntut untuk sekadar menghafal fakta-fakta sebelum menempuh ujian akhir, ataupun mengejar nilai sempurna tanpa memiliki kompetensi yang sesungguhnya dibutuhkan oleh masyarakat. “Sebagai tugas akhir dari Primary Years Program (PYP), murid-murid kelas 5 diharapkan bukan hanya mengembangkan pengetahuannya tentang ilmu pengetahuan, namun juga menjadi manusia yang lebih bijak dalam berinovasi dan menjadi individu yang kreatif.” tukas Pima.

Melalui PYP Exhibition, Sekolah Cikal mendorong murid untuk berkontribusi secara nyata dengan pengembangan kompetensi bagi setiap murid. Kompetensi ini harapannya tentu tidak hanya akan bermanfaat bagi diri murid di masa depan nanti, tapi juga masyarakat sekitarnya.  “Sekolah Cikal sangat berharap kegiatan ini dapat menginspirasi tidak hanya bagi komunitas Sekolah Cikal. Namun, juga bagi komunitas yang lebih luas lagi di Indonesia.” tutupnya.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR