ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Ormas Dibelai, Honorer Terkulai

10 Maret 2020
 Ormas Dibelai, Honorer Terkulai
Dudung Nurullah Koswara

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Nadiem Makarim saat ini  sedang menggagas organisasi penggerak.  Ormas akan dimodali milyaran dengan kategori Gajah, Macan dan Kijang.  Ahaa, ada gajah, macan dan innova, eh kijang maksudnya.

Unik gagasan Nadiem, Ia mencoba menghidupkan dunia pendidikan dengan melibatkan ormas yang selama ini __katanya__ sudah berkiprah baik di pendidikan.  Ia  telah menyeleksi ratusan ormas pendidikan untuk dijadikan ormas penggerak pendidikan.

Pertanyaannya, “Mengapa malah menghidupkan ormas, bukan memudahkan NUPTK dan meningkatkan kesejahteraan guru honorer?” Mengapa tidak memanfaatkan dewan pendidikan, organisasi profesi guru yang sudah ada?

Dana ratusan milyar alirkan saja pada guru honorer, dewan pendidikan dan organisasi profesi guru. Jangan sampai ormas dibelai namun honorer terkuali, lemas dan kurang cairan karena dan BOS pun tak bisa diterima. NUPTK  jadi barrier bagai  palang pintu yang menghalangi hak gaji 50 persen.

Semoga gagasan Nadiem ini tidak melahirkan sejumlah oknum ormas yang malah membuat kisruh di dunia pendidikan. Nadiem tidak mengerti bahwa dunia sekolahan itu sebenarnya alergi pada ormas. Tidak sedikit oknum ormas yang lebay dan bahkan arogan ikut campur urusan sekolah.

Harapan  hadirnya ormas penggerak jangan sampai  berubah malah yang hadir ormas pengerat!  Bagai tikus pengerat, ahaa. Pengalaman mengatakan sejumlah oknum mengatasnamakan ormas malah membuat keruh suasana sekolah. Kedaulatan sekolah malah terusik dan menyinggung kehormatan guru.

Pernah kejadian di suatu daerah,   beberapa  oknum  masuk sekolahan bertindak, berkata dan berbuat tuna adab. Menghina guru dan merendahkan derajat guru. Beruntung  __berkat doa para guru_  oknum ini sekarang sudah dipanggil Tuhan. Sekolahan lebih aman dan tidak terlalu jadi sasaran kelompok oknum ormas.

Berseliweran oknum ke sekolahan atas nama ormas. Apalagi saat menjelang hari raya. Surat dan permohonan minta THR ke sekolahan bejibun. Bahkan terkait maraknya sekolah dimintai THR pernah Saya tulis di harian Pikiran Rakyat pada 4 Juni 2018. Mereka ormas pengerat bukan penggerak.

Mengapa tidak,  dana ratusan milyar itu alirkan saja pada : 1) guru honorer penggerak, 2) organisasi profesi guru penggerak, 3) Dewan Pendidikan, 4)  asosiasi pengawas sekolah, 5) asosiasi kepala sekolah, 6) para tokoh inspirasi pendidikan dan 7) komite sekolah penggerak. Menurut Saya berdayakan mulai dari interal dulu.

Ormas pendidikan? Adakah jaminan mereka mampu menggerakan kepala sekolah, guru, anak didik dan orangtua dalam meningkatkan proses pembelajaran? Benarkah ormas penggerak akan mampu meningkatkan kualitas kepala sekolah, guru dan anak didik? Rasanya  Saya agak skeptis  memahami program ini.

Jangan sampai program ormas penggerak  ini terkesan menggabaikan guru honorer dan organisasi profesi guru  itu sendiri. Dana ratusan milyar bila dialirkan pada ormas belum tentu efektif. Coba kalau dana ratusan milyar itu dialirkan pada guru honorer,  komunitas MGMP, organisasi profesi guru, dewan pendidikan dan tokoh inspiratif pendidikan.

Bila gagasan ini diwujudkan semoga benar-benar efektif tidak terkesan proyekan dan lupa pada guru honorer,  malah seolah “membelai” ormas.  Mari kita lihat, kawal dan beri kritik konstruktif terkait rencana pemberdayaan ormas pendidikan di setiap sekolahan.

Saya skeptis  mungkin karena Saya belum faham. Apakah Saya masih sumbu pendek dalam memahami hal ini? Apakah Nadiem terlalu pintar? Ahaa, mungkin saja demikian. Fakta dan hasil dilapangan akan menjawab. Semoga banyak penggerak di dunia pendidikan bukan pengerat!


**** Dudung Nurullah Koswara (Praktisi Pendidikan)


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR