ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Sumbangsih Perguruan Tinggi Atasi Penyebaran Virus Covid-19

12 Maret 2020
Sumbangsih Perguruan Tinggi Atasi Penyebaran Virus Covid-19
Anti Virus hand sanitizer yang diproduksi UTA 45. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Merebaknya Virus Covid-19 di Indonesia, yang kini telah menelan korban jiwa ini, mengundang keprihatinan banyak pihak. Dunia medis pun giat mengembangkan upaya pencegahan melalui bidang ilmu untuk mengatasi penyebab corona yang mulai mengganas ini.

Lewat kajian penelitian, beberapa perguruan tinggi tanah air juga memberikan sumbangsih untuk mengatasi penyebaran virus tersebut. Upaya yang dibuat, salah satunya oleh Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. Lembaga pendidikan tinggi ini meluncurkan produk anti virus hand sanitizer dengan formula yang disarankan WHO.

Diungkapkan Dekan Fakultas Farmasi UTA’45, Diana Laila, formula yang dibuat mengandung alkohol lebih dari 80 persen. Jumlah ini diyakini dapat membunuh virus dalam waktu 5 detik.

Dijelaskan Diana, tujuan dari pembuatan Anti Virus hand sanitizer ini adalah untuk kebutuhan masyarakat UTA’45 Jakarta baik itu dosen, karyawan dan mahasiswa. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kebersihan tangan masyarakat UTA’45 Jakarta dan meminimalisir penyebaran COVID-19.

"Untuk Batch pertama kami telah berhasil membuat 2000 botol Anti Virus hand sanitizer, yang akan kami sebar ke seluruh masyarakat UTA’45 Jakarta seharga Rp7.500 per botol (harga botol kosong), dimana hal ini senilai dengan harga botol kosong dan hanya dapat dibeli maksimal 2 botol per orang. Ini terselenggara berkat kerja sama dengan PT Tri tunggal dan Femme Kosmetik,"jelas Diana.

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro juga mengungkapkan, pihaknya  telah merintis penelitian tentang vaksin virus corona atau Covid-19, kerjasama antara Lembaga Molekular Biologi Eijkman dan PT Bio Farma.

Menurut Bambang, upaya penelitian harus dimulai sehingga kita lebih antisipatif menghadapi berbagai kemungkinan penyakit atau wabah yang bisa terjadi di masa yang akan datang.

Dalam kesempatan terpisah, Peneliti Senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H. Muljono membenarkan bahwa Eijkman telah melakukan pembahasan awal dengan PT Bio Farma. "Untuk mengembangkan vaksin untuk melawan Covid-19," katanya.

Menurut Head of Corporate Communication Bio Farma Iwan Setiawan Bio Farma sudah memiliki kemampuan mengembangkan vaksin. “Secara teknologi kami sudah terbiasa dengan virus,” kata Iwan.

Iwan mengatakan produksi vaksin membutuhkan 'bibit' virus yang dilemahkan. Bibit virus itu belum tersedia untuk kasus virus corona yang saat ini sedang mewabah dari Wuhan, China. Iwan mengatakan, hingga saat ini belum ada negara yang bisa memproduksi vaksin corona Wuhan. "Kami harus ada seed-nya, itu biasanya dari WHO," kata dia. "Ini kan outbreak baru."

Baca juga: 
UTA’45 Jakarta Luncurkan Anti Virus Hand Sanitizer

Sementara itu, pihak Universitas Airlangga juga melakukan kajian tentang upaya penangangan virus corona dengan memanfaatkan tanaman herbal. Adalah penelitian curcumin yang  dilakukan oleh Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga Chaerul Anwar Nidom, yang membuktikan kesahian ramuan tradisional tersebut.

"Penelitian curcumin yang berasal dari empon-empon, terdiri dari jahe-jahean, kunyit, temulawak, sereh, dan lain-lain akan dilakukan oleh para peneliti di Professor Nidom Foundation (PNF)," tuturnyan.

Nidom yang saat ini sebagai Ketua Tim Riset CoV & Formulasi Vaksin di PNF mengatakan, saat ini dia dan tim sudah membuat dua formulasi yang sedang menunggu uji praklinik. "Mudah-mudahan segera akan ditemukan formulasi berikutnya," kata Nidom.

Formulasi-formulasi tersebut akan ditujukan untuk penyakit-penyakit yang spesifik, misalnya untuk penyakit flu termasuk Flu Burung, Covid-19, Malaria, dan lain-lain. Nidom menganjurkan agar masyarakat tetap mengkonsumsi minuman dan makanan sebagaimana biasa dilakukan. "Sejauh ini, PNF belum kontak dengan institusi manapun. Platform riset ini sebetulnya sudah pernah kami lakukan terhadap virus atau infeksi flu burung beberapa tahun lalu," ujar Nidom.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR