ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Rektor Usahid: Segera Bentuk ‘Task Force’ Tangani Virus Covid-19

20 Maret 2020
Rektor Usahid: Segera Bentuk  ‘Task Force’ Tangani Virus Covid-19
Rektor Universitas Sahid Jakarta, Prof. Dr. Ir. H. Kholil, M.Kom menjawab pertanyaan wartawan. (Arahkita/Farida Denura)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Virus Covid-19 yang menyebar dan menyebabkan bencana nasional ini, membuat Pemerintah mengambil langkah kebijakan penanggulangannya. Diantaranya upaya mitigasi melalui protokol penanggulangan dengan melakukan isolasi baik terhadap orang yang dicurigai terpapar maupun orang yang benar-benar terpapar. Selain upaya politis, bidang kesehatan dan pendidikan pun terus berupaya mengatasi penyebaran virus Covid-19 ini. Bidang kesehatan yang bertumpu pada penanganan medis, perlu didukung bidang keilmuan sebagai ‘sumber’ kajian dalam pengambilan keputusan atau kebijakan.

Menurut Rektor Universitas Sahid Jakarta, Prof. Dr. Ir. H. Kholil, M.Kom,  akademisi atau peneliti harus terlibat dan dilibatkan sebagai “problem solving” pemecah masalah. “kita punya perguruan tinggi yang hebat-hebat ITB, UI, IPB, UGM, ITS, UNAIR dan lainnya. Ada juga kelompok profesional IDI, Ikatan Apoteker Indonesia, juga ada LIPI, BPPT yang seharusnya segera membentuk task force untuk melakukan riset bersama menemukan obat anti convid 19 dalam waktu yang tidak terlalu lama,” papar Kholil, lewat kajian tertulisnya bertajuk “Perlu mitigasi bencana Convd 19 secara holistik” yang diterima scholae.co.

Menurutnya, salah satu ihtiar untuk menghentikan penyebaran convid 19 ini adalah melalui mitigassi secara holistik. Disebut holistik, karena confid 19 sangat kompleks dan dinamik. Tidak bisa ditangani secara sektoral atau mengandalkan pemerintah saja, tetapi harus secara bersama-sama dengan berbagai dukungan lintas ilmu dan profesi untuk secara terpadu menghentikan penyebarannya. Tidak hanya dari sisi teknis yang saat ini sudah dilakukan oleh pemerintah, namun juga secara non teknis dengan melibatkan seluruh komponen bangsa : A-B-G+C+P ; yaitu Akademisi-Businessman-Government + Community + Pers atau media.

Selain itu, lanjut Sekjen Forum Organisasi Profesi Indonesia (FOPI) ini, Businessman atau pelaku usaha harus dilibatkan pula untuk mendukung mitigasi melalui program CSR atau Program Bina Lingkungan. Pengusaha obat dan makanan harus ikut terlibat dengan mengembangkan obat atau makanan sehat dan murah untuk meningkatkan kesehatan dan daya tahan masyarakat. “Ketika wabah convid 19 muncul di Wuhan kelompok pengusaha tampil untuk membantu menanganinya. Mudah-mudahan di indonesia kelompok pengusaha ini segara ambil bagian untuk membantu masyarakat yang sangat membutuhkan,” ungkapnya.

Kholil juga menambahkan, Government, sebagai pengambil kebijakan harus merancang mitigasi yang tepat, terencana, terarah, terukur dan tersistem. Tidak hanya dari aspek teknis seperti perawatan dan isolasi pasien di rumah sakit, pembukaaan hotel menjadi tempat penampungan pasien, pengembangan protokol pengendalian tetapi juga aspek non teknis seperti melakukan training singkat bagi para tenaga medis. Misalnya dengan menyiapkan trauma center bagi para pasen yang telah sembuh, mengembangkan kebijakan afirmatif terhadap para pasien convid 19, terutama yang terkait dengan pembiayaannya.

Selain itu, community atau masyarakat harus dilibatkan. Kelompok-kelompok masyarakat (kelompok agama, profesional, pemuda, dan kelompok sosial) perlu terlibat dalam mitigasi bencana convid 19. “Para politisi yang ketika mau Pilkada spanduknya berjejer di pinggir jalan, kini saatnya untuk bergandengan tangan memberikan bantuan baik melalui sosialisasi via spanduk atau lainnya. Pers atau media menjadi ujung tombak dalam sosialisasi dan edukasi masyarakat, harus terlibat melalui edukasi dan sosialisasi secara masif, agar masyarakat memiliki risk awareness, kesadaran akan risiko bencana, sehingga mematuhi protokol pencegahan bencana yang ditetapkan oleh pemerintah,” tandas Kholil.

Kehadiran Digital Information Center of Convid-19

Mencermati aliran informasi begitu deras melalui medsos saat ini, menurut Kholil, perlu dibentuk pusat informasi digital convid 19 (digital information center of convid 19), dengan melibatkan ahli IT,  akademisi, tokoh masyarakat, pelaku bisnis dan sudah barang tentu pemerintah sebagai penangungjawabnya khususnya kementerian informatika dan kementerian dalam negeri yang memiliki jenjang komando sampai tingkat kelurahan.

Pusat inilah yang bertanggungjawab menyebar luaskan informasi tentang convid 19 secara sah dan legal. Selain informasi yang dikeluarkan dari pusat ini tidak legal meskipun mungkin benar. Informasi yang disajikan pun, harus setiap jam bahkan secara riel time di update melalui jaringan medsos. Sehingga masyarakat mengetahui perkembangan terkini, dan tindakan apa yang harus di lakukan dalam mitigasi bencana convid 19 secara tepat dan cepat. Maksudnya agar informasi yang disebarkan valid dan up to date kelompok masyarakat dan tokoh masyarakat atau lainnya serta aparat kelurahan di lapangan dapat menyampaikan informasi ke pusat untuk divalidasi. Sehingga informasi yang disampaikan valid yang disertai data-data pendukungnya. Langkah ini akan memudahkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, karena sebagian besar masyarakat indonesia telah memiliki ponsel/HP dan telah terdaftar.

Penyebaran informasi digital ini pun menjangkau seluruh pelosok tanah air, dalam waktu yang sangat singkat dengan tingkat tingkat validitas informasi yang tinggi. Dengan demikian masyarakat dapat menerima informasi tentang convid 19 termasuk mitigasinya secara cepat dan benar. Langkah ini juga untuk menghindari hoaks yang berseliweran yang justru membuat masyarakat panik.

Tiga Tahapan Mitigasi
Terkait penyebaran convid 19, Kholil memaparkan tiga tahapan mitigasi yang perlu dilakukan :  sebelum terinfeksi (terpapar), saat terpapar (positive),  dan pasca terkena convid 19 bagi yang sembuh.

Sebelum terpapar (pre paredness),  adalah tahap pencegahan kepada masyarakat yang belum terkena. Perlu edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat secara online untuk membangun public risk awareness dan sekaligus sebagai early warning disaster melalui Pusat Informasi Digital Convid 19, agar masyarakat sadar risiko bencana convid 19.

Bagi kelompok masyarakat yang sedang terpapar convid 19 penanganannya melalui emergency response dengan merawat dan mengisolasi sesuai dengan protokol standar.

Dan tahap ketiga, bagi masyarakat yang telah tersembuhkan perlu dilakukan pemulihan psikis melalui trauma center. “Melalui mitigasi secara holistik ini, insya allah indonesia akan dapat segera pulih dari bencana convid 19,” ungkap Rektor Usahid tersebut.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR