ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Daniar, Tembus Beasiswa Antar Benua

27 Maret 2020
Daniar, Tembus Beasiswa Antar Benua
Daniar saat mengikuti internship di Jepang

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Anggapan menimba ilmu ke luar negeri adalah mereka yang berasal dari kota besar, kaum menengah atau orang yang beruntung, nyatanya tak selalu benar. Seorang putra asal Tranggalek – Jawa Timur ini membuktikan, bahwa niat dan kegigihan berusaha bisa mewujudkan impan kuliah di negeri Paman Sam.

Adalah Daniar yang menempuh gelar Doktor alias PhD dari University of Chicago, Amerika Serikat berkesempatan menembus mancanegara.  Setelah menempuh pendidikan 12 tahun di Trenggalek, Daniar kemudian kuliah S1 jurusan Teknik Informatika di ITB, Bandung, Jawa Barat – yang ia selesaikan dalam lima tahun. Walau memakan waktu lebih lama daripada teman-teman lainnya untuk lulus, Daniar ternyata memanfaatkan waktunya yang lebih di dunia perkuliahan untuk mengikuti program-program student exchange, internship, & research abroad.

Putra terbaik bangsa ini pun menuturkan perjuangannya, hingga bisa meraih cita menjadi enginer.  “Di tahun 2014, saya mengikuti AIESEC Global Volunteer di Thailand. Kemudian di 2015 saya mengikuti internship di Tokyo dilanjutkan dengan riset di JAIST, Ishikawa, Jepang. Di 2016, saya kembali berkunjung ke Jepang untuk mengikuti International Student Program di Toyohashi University of Technology. Selanjutnya, di tahun 2017 saya berkesempatan untuk mengunjungi CERN yang berlokasi di Geneva, Swiss, bersama dengan 36 mahasiswa lain setelah lolos seleksi pendaftaran dari 1580 peserta dari seluruh dunia. Selain itu, saya juga cukup aktif melakukan publikasi ilmiah dan berhasil menjadi pembicara di beberapa konferensi internasional, diantaranya: ICEEI 2015 di Bali, ICAICTA 2016 di Penang, dan ICEEI 2017 di Langkawi, Malaysia. Saat ini, saya tercatat sebagai mahasiswa PhD di University of Chicago, Amerika Serikat dengan kesibukan riset di bidang Cloud Computing dan Distributed Systems,” tutur Daniar menceritakan pengalamannya mengikuti berbagai program di luar negeri.

Tantangan Menuju Program Abroad

Di tahun pertamanya berkuliah di ITB, Daniar mendapat banyak cerita-cerita menarik dari dosen tentang serunya kuliah di luar negeri. Meski terdengar seru, banyak juga yang bilang bahwa kuliah atau ikut program ke luar negeri itu sulit. Walau demikian, hal ini malah membuat Daniar merasa tertantang dan punya mimpi untuk melanjutkan studi S2/S3 di luar negeri.

“Banyak yang berkata kalau ikut program ke luar negeri itu sulit. Saya jadi tertantang, kemudian saya mencoba mencari berbagai peluang untuk mempersiapkan diri. Saya mulai mencari-cari daftar universitas bergengsi di dunia dan membaca cerita-cerita orang yang berhasil diterima di sana. Dulu, saya ingin lanjut S2 ke Jepang saja karena banyak dosen lulusan sana dan universitas kami cukup dikenal di sana. Namun saya mencoba bermimpi lebih tinggi lagi, saat itu saya membaca tentang Beasiswa LPDP dan saya ingin mendapatkan Presidential Scholarship. Jadilah saya bermimpi untuk lanjut ke Top 50 Universities di Amerika Serikat. Akhirnya saat itu saya benar-benar sadar bahwa mimpi saya sangat tinggi dan butuh persiapan banyak agar bisa bersaing. Parameter yang bisa meningkatkan daya saing di antaranya adalah: pengalaman riset, internship, dan IPK. Kalau pengen lanjut kuliahnya di Jepang, pengalaman being abroad in Asia is enough, tapi kalau pengennya ke US, pengalamannya pun harus level internasional,” ucap Daniar.

Selama mempersiapkan diri mengikuti program abroad, jalan yang ditempuh Daniar pun tidak selamanya mulus. Daniar menyatakan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah masalah biaya, “Saya tidak bisa mengandalkan bantuan biaya dari orang tua karena keluarga saya sendiri cukup kesulitan memenuhi kebutuhan harian.” Menyadari hal ini, Daniar menseleksi program abroad yang ada dan mendaftar hanya pada program-program yang menawarkan setidaknya beasiswa 90% fully funded. Hal ini membawa Daniar pada tantangan selanjutnya: sulitnya diterima program yang fully funded karena peminatnya sangat banyak. Daniar mengaku, tidak sekali dua kali lamarannya ditolak. Namun, hal itu tidak memutuskan semangatnya untuk terus mencoba.

“Penolakan adalah teman sejati saya yang selalu menemani dan bisa menyapa kapan pun ia mau. Biasanya, kalau saya ditolak oleh satu program, saya akan apply at least ke tiga program lain. Namun sayangnya saya sudah tidak memberlakukan prinsip itu lagi saat ini, karena ada prioritas lain. Either way, saya tidak merasa gagal walaupun ditolak, gagal itu ketika saya berhenti mencoba dan berusaha.”

Satu hal yang Daniar syukuri, selama perjalanannya berusaha mengikuti program abroad, kedua orang tuanya selalu mendukung “Di Trenggalek, kuliahnya memang harus jauh kalau mau kualitas pendidikan yang lebih baik. Saya sering dengar curhatan orang tua yang merasa kalau anaknya tidak akan bisa bersaing untuk sekolah jauh dan tidak bisa dapat beasiswa – sesuatu yang menurut saya terlalu pesimis dan dapat menghambat potensi anaknya. Alhamdulillah, hal ini tidak berlaku bagi saya. Saya dapat melanjutkan sekolah ke berbagai tempat yang saya inginkan, adik saya pun tahun ini akan melanjutkan sekolahnya di ITB. Orang tua saya senang-senang saja kalau anaknya yang dibesarkan di pinggir gunung ini bisa sekolah sampai ke luar negeri,” ungkapnya.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR