ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Prof. Nugroho Sukamdani: Inkubator Bisnis Usahid Hasilkan Start-up Unggul

30 Maret 2020
Prof. Nugroho Sukamdani: Inkubator Bisnis Usahid Hasilkan Start-up Unggul
Kegiatan Workshop Sistem Pembelajaran Kreatif untuk Mendukung Merdeka Belajar di Universitas Sahid (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pandemi Covid-19 yang mendera sebagian wilayah Indonesia, memberi dampak bagi dunia usaha tanah air. Salah satunya industri pariwisata yang terkena imbas penyebaran Coronavirus ini. Rentetan dari akibat itu, para pekerja di bidang ini, mengalami kesulitan menjalani usaha maupun karirnya.

Beruntung media digital bisa diandalkan hingga nadi usaha pariwisata tetap berdenyut menandakan bisnis ini masih berjalan. Semangat optimisme ini pun disampaikan Ketua Umum Yayasan Sahid Jaya (YSJ) Prof. DR. Nugroho B. Sukamdani, MBA., BET. Di tengah masa pandemi ini, ia yakin usaha pariwisata tetap melaju lantaran bidang ini masih menjadi kebutuhan masyarakat modern.

Pertimbangannya, “Sejak dahulu usaha pariwisata terhantam rentetan peristiwa mulai dari politik, sosial, dan bencana alam. Tapi bisa bertumbuh kembali seiring dengan kebutuhan pasar,” ungkap Nugroho.

Boleh jadi lantaran bisnis ini juga dikenalikan keterampilan para pelaku usahanya, termasuk bidang jasa yang menggerakannya. Hal inilah yang memberikan motivasi hingga usaha ini terus berkembang dan eksis hingga kini. Ditambahkannya pula, kemajuan teknolog digital juga memudahkan orang mengakses informasi secara mudah termasuk informasi seputar obyek wisata. Kenyataan ini menunjukan bahwa bidang ini masih dibutuhkan.  “Dunia pariwisata itu menitikberatkan pada optimisme dan positive thinking. Inilah yang menjadi energi kita,” tandas Nugroho.

Membangun Kemitraan dengan Pemerintah dan Industri

Sebagai lembaga pendidikan yang menelurkan ribuan pelakukan usaha pariwisata, Universitas Sahid pun tetap berkomitmen menciptakan SDM unggul di bidang ini. Misalnya, mengembangkan riset  dan kerja praktik dengan menggandeng pihak-pihak terkait.

Salah satu yang telah dilakukan adalah  penandatanganan naskah kerja sama (MoU) antara Universitas Sahid dengan beberapa instansi, yaitu PT. Sentana Mitra Kualita, PT. Arya Bangkit Widya dan PT. Unilab Perdana, beberapa waktu lalu.

Kerja sama ini untuk memperkuat sinergi antara universitas dan industri sehingga mahasiswa Usahid akan memiliki kemudahan akses melakukan kerja praktik dan riset. Di samping itu Usahid akan lebih cepat menyalurkan produk penelitiannya ke pasar riil serta mendapat akses perubahan-perubahan baru di dunia industri. Diharapkan sinergi antara Universitas, Pemerintah dan Industri dapat menghasilkan perkembangan ilmu dan teknologi yang berjalan baik

Nugroho juga mengungkapkan, Universitas Sahid melalui pusat inovasi dan inkubator bisnisnya ke depan akan terus meningkatkan reputasinya dengan melakukan inkubasi terhadap invensi yang dihasilkan oleh dosen dan mahasiswa; menjadi inovasi yang dapat dihilirisasi untuk kepentingan masyarakat dan bahkan dikomersialisasikan. “Dalam rangka mewujudkan misinya Usahid menargetkan melalui inkubator bisnis dapat menghasilkan start-up bisnis atau PPBT (Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi) yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” paparnya.

Usahid Menjadi Kampus Percontohan “Merdeka Belajar”

Prestasi dan komitmen menghasilkan start-up bisnis atau PPBT ini, menempatkan Usahid Jakarta sebagai kampus percontohan atau pilot project dalam program Merdeka Belajar yang dicanangkan Kemendikbud. Sebab sebelum program itu diluncurkan Mendikbud Nadiem Makarim, Usahid sudah melaksanakannya lebih dulu.

Menurut Nugroho, perubahan kebijakan yang terjadi, termasuk tentang kampus merdeka belajar ini perlu direspons dengan cepat dan tepat oleh universitas agar dapat dilaksanakan dengan baik.

Hal ini penting karena kurikulum dan metode pendidikan harus selalu update dan disesuaikan dengan perubahan iklim bisnis, industri yang semakin kompetitif dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sains. "Yang salah satunya tentang kebijakan kampus merdeka belajar," ujar Nugroho.

Hal ini juga ditegaskan  Rektor Usahid Prof. Dr. Ir. Kholil, M.Kom yang mengungkapkan bahwa  mahasiswa yang belajar di Usahid tak hanya diberikan materi saat kuliah saja. Namun, mereka dibekali pengalaman bekerja dengan cara magang di lembaga atau perusahaan luar. "Sebagian (merdeka belajar) sudah kami lakukan berupa magang di hotel karena lembaga kita punya jaringan hotel," kata Kholil saat berbincang dengan scholae.co.

Menurut Kholil, pihaknya juga tengah merumuskan magang tiga semester pada program Kampus Merdeka yang diinisiasi Kemendikbud. Misalnya, mahasiswa bisa menimba ilmu di lingkungan kampus maupun di tempat lain yang mendukung bidang ilmu yang digelutinya.  "Kalau dulu kan mahasiswa yang mencari, tapi untuk sekarang pihak kampus yang akan menyediakan. Nanti akan dilegalisir kampus menjadi sebuah kewajiban yang harus diselenggarakan," ungkapnya.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR