ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Sekolah Cikal Setu Gelar Pameran Personal Project Secara Daring Pertama Kalinya

03 Mei 2020
Sekolah Cikal Setu Gelar Pameran Personal Project Secara Daring Pertama Kalinya
Pameran Personal Project Secara Daring Sekolah Cikal Setu (Ist)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Dalam kondisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pelaksanaan berbagai kegiatan dilakukan secara terbatas, diundur atau bahkan ditiadakan guna menghindari perkumpulan dan penyebaran Covid-19.

Berkaca pada kondisi tersebut, Sekolah Cikal Setu menghadirkan pameran Personal Project (PP Exhibition) kelas 10 secara online melalui sosial media Instagram dan Youtube untuk pertama kalinya pada 16 April hingga 30 April 2020.

Cara Solutif di tengah Pandemi

Meski dilakukan secara Online, pameran Personal Project yang mengangkat tema “Cherish Passion, Inspire Others” ini tetap dijalankan sebagai cara untuk merayakan keberhasilan tugas akhir program (International Baccalaureate) IB (Middle Year Program) MYP bagi Kelas 10. Murid-murid Sekolah Cikal tetap diberikan kesempatan dan dukungan dari berbagai pihak, baik guru dan orang tua, untuk mendemonstrasikan hasil belajarnya dalam berbagai bentuk sesuai pilihan murid.

“Personal Project (PP) ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk murid-murid kelas 10 belajar menemukan passion mereka dan membuat sebuah karya atau produk sesuai pilihan mereka, yang tidak hanya menunjukkan keberhasilan belajar mereka atau kompetensi mereka, tapi juga bertujuan menginspirasi orang lain,” imbuh Siti Fatimah, atau yang lebih dikenal dengan Sifa, selaku koordinator IB Middle Year Program (MYP), Sekolah Cikal Setu.

Antusiasme murid-murid kelas 10 Sekolah Cikal untuk pameran daring ini juga tetap terlihat dari pembuatan poster presentasi hingga video sesuai dengan tema pembahasan yang mereka pilih, (baik itu tentang kesehatan mental, lingkungan, seni budaya, sains, fashion, teknologi, kesehatan fisik, kegiatan sosial, hingga kuliner.   “Menurut aku pameran Personal Project online yang dilakukan melalui Instagram itu sangat efektif dan informatif. Melihat kondisi Covid-19 sekarang, kami menyadari bahwa kami tidak bisa membuat pameran di sekolah.

Meskipun demikian, melalui platform instagram @cikalppx2020 kami percaya bahwa proyek kami tentunya akan lebih mudah untuk diakses oleh semua orang, dan mempelajari proyek teman-teman kami juga,” imbuh Najya Hani Assegaf, salah satu murid kelas 10 Sekolah Cikal Setu.

Bagi koordinator pelaksana pameran Personal project kelas 10 Sekolah Cikal Setu, Anggi Puspita Swardhani, pilihan menjalankan pameran secara online merupakan keputusan yang tepat mengingat tidak mungkinnya mengadakan pameran secara terbuka saat pandemi dan saat belajar dari rumah.

“Di tengah pandemi yang seperti sekarang ini, opsi melaksanakan Personal Project Exhibition secara online menjadi salah satu solusi yang baik. Murid-murid juga menyambut dengan antusias. Kita juga menggunakan sosial media yang banyak digunakan orang-orang. Jadi, kita tentunya bisa menjangkau komunitas yang lebih luas lagi,” ujar Anggi Puspita Swardhani, Koordinator Pameran Personal Project (PP) kelas 10 Sekolah Cikal Setu.

Karya Menarik, Cerminan Diri yang Unik

Dalam pelaksanaan pameran secara online, masyarakat dapat melihat berbagai karya murid dengan filosofi unik dibaliknya melalui sosial media instagram (@cikalppx2020) dan Youtube Sekolah Cikal (Sekolah Cikal Official).

Bagi Sifa, di usia murid yg tergolong belia, murid-murid Sekolah Cikal telah mampu berpikir "out of the box" didasari atas "keinginan berkontribusi untuk orang lain".  “Kita melihat proses pengerjaan mereka dari awal. Dari brainstorming sampai akhirnya menjadi sesuatu yang nyata. Di usia mereka yang tergolong belia, mereka benar-benar luar biasa, karena mampu berpikir "out of the box". Lebih dari itu, apa yang mereka lakukan didasari atas keinginan berkontribusi untuk orang lain,” jelasnya.

Beberapa karya unik yang lahir dari murid-murid kelas 10 Sekolah Cikal Setu antara lain, Kampanye Sosial ‘628’ oleh Najya Hani Assegaf, Storytelling session for elementary students oleh Fasha Jamel Antwan, Jelajah Nusantara (Extended Album) karya Ainaa Dewi Faadila, Project Tiny (Design for an eco-friendly house) oleh Kundera Aqza Luqman, dan Modern Batik (Mo.Ba) karya Aliya Nafila.

Menurut Najya, keinginannya membuat kampanye sosial “628” dilatarbelakangi oleh penerapan “gadget free” dalam keluarganya dimulai pukul 6 sore hingga 8 malam untuk meningkatkan kebersamaan dengan keluarga. “Aku berharap proyek ini dapat meningkatkan kesadaran pada masyarakat akan dampak negatif gawai terhadap hubungan antar manusia, khususnya dalam keluarga,” ucapnya.

Selain Najya, ada juga karya Ainaa dan Kundera. Ainaa membuat album musik mengenai keragaman budaya Indonesia bertajuk Jelajah Nusantara. Ia menyatakan bahwa album yang terdiri atas 4 lagu, antara lain Yogyakarta, Nusantara, Labuan Bajo, and Toba diharapkan dapat mewakilkan dan mempromosikan budaya Indonesia, mencakup etnis, dan tradisi yang ada. Album ini juga dibuat Ainaa khusus untuk anak-anak muda Indonesia.

Di sisi lain, Kundera menawarkan gagasan pembuatan rumah mungil “eco-friendly tiny house -Design for an eco-friendly house” sebagai alternatif gaya hidup dalam kehidupan bermasyarakat demi menjaga kelestarian lingkungan.  “Target dari proyek saya adalah untuk generasi yang berusia 17 hingga 24 tahun. Tiny House ini harapannya bisa dijadikan sebagai opsi yang tepat bagi generasi muda di masa mendatang untuk menjaga lingkungan,” imbuh Kundera Aqza Luqman.

Menurut Anggi, karya yang ditampilkan oleh setiap murid sangat jelas mewakili apa yang mereka sukai, dan dekat dengan keseharian mereka. Sebut saja, Ainaa yang senang dengan musik, Kundera dengan kompetensinya di sains dan lingkungan, dan Najya yang erat dengan kegiatan sosial.  “Karya murid-murid ini sangat menunjukkan karakter mereka masing-masing. Jadi, setiap murid terlihat memiliki ciri khasnya masing-masing dan dengan gaya mereka masing-masing. Murid-murid ini sangat kreatif, dan punya banyak ide menarik dalam pikiran mereka,” ujar Anggi.

Di akhir, Anggi menutup dengan mengapresiasi setiap karya murid dengan penuh rasa bangga. “Tidak pernah terpikir sama sekali anak usia 15 tahun bisa mengambil tema yg begitu dalam dan sangat mempunyai pengaruh besar. Mereka semua hebat. Mereka membuat karya yang tidak hanya berfokus pada diri mereka sendiri, tapi juga menunjukkan kepedulian mereka tentang sesuatu hal sesuai dengan keahlian dan minat mereka,” tutup Anggi.  (sfa)


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR