ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

BERIMAN: Berdoa, Inovasi, Motivasi, Aktivitas dan Nutrisi Kunci Memasuki The New Normal

10 Mei 2020
BERIMAN: Berdoa, Inovasi, Motivasi, Aktivitas dan Nutrisi Kunci Memasuki The New Normal
Audiens sharing From Normal to Normal (Dok. BPK PENABUR Jakarta)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Sejak pemerintah menetapkan kebijakan 'menjaga jarak social' dan hingga kini memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), perjumpaan fisik pun kian dibatasi, bahkan di tiadakan. Bidang pendidikan mengalami imbas dari kebijakan tersebut, karena sepanjang tiga bulan berjalan ini, proses belajar - mengajar pun tidak lagi dengan pertemuan tatap muka secara langsung, namun dijalani dengan 'belajar mandiri' di rumah dengan pantauan para pengajar. Kondisi seperti ini mengantarkan para guru serta peserta didik pada sebuah keadaan ‘new normal’.

Apa itu kondisi ‘new normal’ ?

Konsep 'New Normal' menjadi topik yang menjadi perbincangan kaum urban, sebagai dampak pemberlakukan pembatasan sosial. Pemahaman ini pun kian di tularkan lembaga-lembaga pendidikan, salah satunya BPK PENABUR.

Beberapa waktu lalu, Pengurus BPK PENABUR Jakarta mengajak para tenaga pendidik dan kependidikan BPK PENABUR Jakarta untuk sharing pada webinar yang bertajuk ‘From Normal to New Normal’ pada Kamis (07/05). Sharing ini bertujuan agar para tenaga pendidik dan kependidikan memahami kondisi ‘new normal’.yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Selain itu, sharing ini juga bertujuan memberikan motivasi dan brain storming bersama pengurus tentang ide kreatif apa yang bisa dilakukan selama WFH (Work From Home).

“Kita semua memahami COVID-19 berdampak sangat besar. Kalau kita mau melihat mungkin big three-nya ada di kesehatan tentunya, kemudian pendidikan, dan ekonomi. Memang harus diakui ada ketidaksiapan, baik dari sisi guru atau sekolah, orang tua dan juga para siswa. Tetapi kondisi home learning ini justru membukakan mata kita di dunia pendidikan, bahwa pendidikan akan berjalan secara baik dan optimal, apabila ada kolaborasi yang baik antara guru atau sekolah, murid dan keluarga.” ungkap Nina Risnawati, Pengurus BPK PENABUR Jakarta memaparkan presentasinya pada webinar yang disiarkan secara live dari Zoom dan YouTube Channel BPK PENABUR Jakarta.

Secara lebih mendalam sesi sharing dipaparkan oleh Dedy Budiman selaku Pengurus BPK PENABUR Jakarta yang juga menjadi keynote speaker pada webinar ini.  “New normal merupakan kondisi yang Bapak/Ibu alami saat ini, kondisi dimana Bapak/Ibu harus mengajar peserta didik melalui platform online dari rumah. Tidak hanya tenaga pendidik, Bapak/Ibu karyawan juga harus berinteraksi secara online untuk menyelesaikan suatu pekerjaan setiap harinya. Ini merupakan kondisi baru yang membuat setiap kita harus terus berinovasi memikirkan ide apa yang bisa kita lakukan untuk BPK PENABUR Jakarta dalam kondisi saat ini. Inovasi apa yang bisa kita lakukan sebagai tenaga pendidik dan kependidikan BPK PENABUR Jakarta agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif meskipun berlangsung secara online.” jelas Deddy Budiman.

Dedy Budiman memberikan arahan berupa tips apa yang harus dilakukan para tenaga pendidik dan kependidikan BPK PENABUR Jakarta dalam menghadapi kondisi ‘new normal’ saat ini. Dalam sharing-nya Dedy menggunakan sebuah akronim ‘BERIMAN’ (Berdoa, Inovasi, Motivasi, Aktivitas, dan Nutrisi).
“BERIMAN itu, berdoa, kita melakukan inovasi, jaga motivasinya, tetap lakukan aktivitas- aktivitas dan nutrisi. Bukan (nutrisi) di fisik tapi di otak kita supaya bisa terus memikirkan apa yang bisa dilakukan.” lanjut Dedy Budiman menjelaskan.

“Bapak/Ibu sekalian yang ada di ujung tombak BPK PENABUR Jakarta harus mau bersama kami (pengurus), merendahkan diri untuk mau saling menerima pendapat, saling memikirkan gagasan baru pada kondisi ‘new normal’ yang kita hadapi bersama saat ini. Mudah-mudahan bisa membuat kita mengatasi seluruh goncangan yang akan terjadi ke depan ini.” ujar Ir. Antono Yuwono, Ketua BPK PENABUR Jakarta yang juga turut hadir dan memberikan sambutannya.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR