ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Kisah Mahasiswa Indonesia Terdampak Lockdown di Sudan

11 Mei 2020
Kisah Mahasiswa  Indonesia Terdampak Lockdown di Sudan
Situasi Lockdown di Sudan (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pemberlakuan partial lockdown atau karantina wilayah secara parsial sejak April 2020 guna memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Disaese (COVID-19) di Sudan, ternyata berdampak terhadap mahasiswa asal Indonesia khususnya dari Minangkabau, Sumatera BDi kota yang tidak pernah tidur itu di mana restoran dan kafe biasanya buka sampai dini hari. Namun, sejak penerapan lockdown pemilik toko menutup jendela dan warga bergegas pulang sebelum dimulainya jam malam yang dimulai 19.00 sampai dengan pukul 06.00 waktu setempat.

Polisi ditempatkan di jalan-jalan utama untuk menghentikan pelanggar jam malam. Banyak jalanan sudah hampir sepi pada 6.30 malam. "Sejak lockdown diberlakukan tempat umum, kafe, rumah makan, sarana olah raga, dan beberapa tempat lainnya ditutup di Mesir. Jam malam juga telah diterapkan. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda senilai 4.217,42 Pound Mesir atau Rp4 juta," kata Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minang (KMM) Mesir Abdan Syukri, saat dihubungi Antara dari Padang.

Mesir telah meningkatkan langkah-langkah yang bertujuan mencegah penyebaran COVID-19 berupa menutup bandara dan pusat kebugaran, serta menangguhkan kelas di sekolah dan universitas. Tidak hanya itu, toko-toko selain supermarket dan apotek akan diminta tutup pukul 5 sore pada hari kerja, dua jam lebih awal dari jam malam sebelumnya, serta pada akhir pekan. "Pemerintah Sudan sudah memberlakukan lockdown sekitar satu bulan," ujar Shofin Alfikri, mahasiswa semester tiga Jurusan Bahasa dan Terjemah, Universitas Internasional Afrika, Sudan saat dihubungi dari Padang, dilansir Antara.

Ia menceritakan pada awal sampai 15 April 2020 Pemerintah Sudan memberlakukan lockdown dari pukul 6 pagi sampai jam 6 malam waktu setempat. Karena kasus COVID-19 terus meningkat, maka sejak 16 April sampai selama tiga pekan, lockdown kembali diberlakukan pukul 6 pagi sampai jam 1.

Berdasarkan informasi dari media Al Jazair, pemerintah Sudan kembali mengumumkan lockdown sampai sekarang. Sudan telah meningkatkan beberapa langkah seperti menutup bandara, menghentikan perkuliahan, dan sejumlah langkah lainnya yang bertujuan memutus mata rantai penyebaran COVID-19. "Karena bandara ditutup, maka kami juga tidak bisa mudik dan tetap bertahan di Sudan," ujar dia. Hal itu disebabkan sampai saat ini kasus positif COVID-19 di Sudan terus meningkat sejak pertama kali diumumkan pada akhir Maret 2020.

Kuliah ke Sudan

Banyak mahasiswa dari negara lain yang melanjutkan studi ke Sudan, termasuk Indonesia. Bahkan terdapat ratusan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sana. Begitu pula dengan mahasiswa asal Minangkabau, Sumatera Barat.

Shofin menyebutkan jumlah mahasiswa Minang yang tengah berkuliah di Sudan terdapat 46 orang. Terdiri atas 43 orang sedang menempuh kuliah S1 atau bachelor, dua orang sedang menempuh pendidikan S2, dan satu orang lainnya pendidikan doktoral.

Kemudian dari 46 mahasiswa asal Minangkabau yang berkuliah di Sudan tersebut ada yang kuliah di Akademi Tajul Hafidzin sekitar tiga orang, Universitas Alqur'an Alkarim dua orang, Universitas Bakhtr satu orang, Markaz Zaim Alazhari lima orang dan selebihnya berkuliah di Universitas internasional Afrika Sudan.

Kasus Terkini COVID-19

Mahasiswa asal Minangkabau lainnya yang berkuliah di International University of Africa Nizam Alfarisy menyebutkan berdasarkan pengumuman dari Kemenkes Sudan, total kasus positif COVID-19 terus meningkat.

"Data terkini kasus COVID-19 di Sudan terhitung pada 10 Mei 2020 yaitu kasus positif COVID-19 sebanyak 1164 orang dengan rincian kasus berada di Kota Khartoum dan selebihnya di kota-kota lain, kemudian meninggal dunia sebanyak 64 orang, dan sembuh sebanyak 119 orang.

Ia mengatakan sejak pemberlakuan lockdown demi memutus mata rantai pandemi COVID-19 pemerintah Sudan memutuskan untuk memberhentikan sistem perkuliahan. "Sejak akhir Maret 2020 perkuliahan di Sudan telah dihentikan total, sampai waktu yang belum ditentukan," kata dia.

Di Sudan tidak ada pembelajaran walaupun secara daring juga tidak ada tugas apapun dari dosen. "Jadi untuk perkuliahan dan semua level pendidikan sampai sekarang terhenti. Dan semua mahasiswa hanya bisa beraktifitas di rumah atau asrama masing-masing," kata dia.

Beasiswa Diputuskan

Shofin mengatakan dari segi finansial mahasiswa asal Minangkabau yang terdampak COVID-19 di Sudan sudah diputuskannya beasiswa mereka. "Tidak hanya itu, teman-teman lainnya juga tidak mendapatkan kiriman dari orang tua, bisnis jualan yang terhenti karena rata-rata harga kebutuhan di Sudan naik," kata dia.

Lebih lanjut ia mengatakan sebagian mahasiswa asal Minangkabau yang berkuliah di Sudan memiliki pekerjaan sampingan untuk membantu meringankan beban orang tua dalam rangka memenuhi kehidupan mereka. "Salah satu pekerjaan mereka ialah berjualan," ujar dia.

Nizam mengakui kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Karena semua harga kebutuhan pokok di sana naik, bahkan gas untuk memasak juga langka, kalaupun ada harganya mahal. "Apa lagi mahasiswa yang tinggal dikontrakan lebih kesulitan lagi, karena mesti membayar sewa rumah dan membeli kebutuhan pokok," kata dia.

Sejak 24 Maret 2020 pemerintah Sudan telah memberlakukan jam malam. Namun melihat kondisi yang semakin buruk, akhirnya dilakukan lockdown total sejak 18 April 2020 hingga sekarang. Akibatnya transportasi umum juga dilarang beroperasi. Warga hanya diizinkan membeli kebutuhan sehari-hari di warung terdekat dari rumah mulai jam 6.00-13.00 waktu setempat. Ia juga mengatakan saat lockdown, polisi berpatroli dan menindak para pelanggar aturan tersebut.

Mahasiswa Minang yang kuliah di Sudan ada yang tinggal di asrama dan tinggal di kontrakan namun kebanyakan mahasiswa di asrama. Mahasiswa yang tinggal di asrama telah mendapatkan bantuan makanan dari pihak kampus. "Akan tetapi untuk mendapatkannya agak melelahkan juga karena di asrama banyak mahasiswa yang berasal dari bermacam negara dengan tabiat-tabiatnya," kata dia.

Kondisi Kesehatan

Kemudian dari segi kesehatan, WNI di Sudan belum ada yang positif COVID-19. Namun saat ini sebagian mahasiswa ada yang sempat mengalami sakit berupa batuk, pilek, demam, kesulitan mencium bau, dan sebagainya.

Menurut dia hal itu disebabkan karena cuaca di Sudan yang panas di tengah puasa Ramadhan dan menu berbuka puasa yang dingin berupa es teh atau yang lainnya. "Saya berharap hanya sekadar demam biasa. Namun tentu kita tidak boleh menyepelekannya," ujar dia.

Sebelumnya terdapat tiga orang mahasiswi yang mengalami gejala sesak napas. Kemudian langsung dievakuasi ke luar asrama dan ditempatkan di tempat khusus supaya mendapat perhatian lebih.

"Dari pantauan Satgas COVID-19 KBRI Khartoum, mereka belum termasuk sakit parah. Kemudian KBRI telah memberi bantuan obat dan vitamin c," kata dia. Ditambah lagi kata dia, beberapa rumah sakit di Sudan tutup tanpa alasan. Hal ini tentu sangat menyulitkan bagi WNI yang hendak berobat ke rumah sakit.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Khartoum juga telah mengirimkan bantuan kebutuhan makanan berupa beras, minyak, mie, dan telur ke asrama.
Beberapa lembaga formal maupun tidak formal sudah berupaya untuk memberikan bantuan berupa Lazizmu, PIP PKS Sudan yang menggalang donasi bantuan sosial untuk mahasiswa yang kesulitan finansial. "Namun belum semua mahasiswa yang mendapatkannya," kata dia. Sehingga beberapa organisasi seperti Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) telah melakukan penggalangan dana untuk membantu mahasiswa indonesia di Sudan. Bahkan beberapa negara melalui perwakilannya telah mengevakuasi warganya dari Sudan. Seperti Turki, Amerika, negara-negara Eropa, dan Suriah..

Shofin berharap pemerintah Provinsi Sumbar memberikan bantuan terhadap mahasiswa asal Minangkabau yang terdampak pemberlakuan lockdown di Sudan.

Menanggapi hal itu, Kepala Biro Kerjasama Pembangunan dan Rantau Sumbar Luhur Budianda mengatakan terkait persoalan WNI di luar negeri, sebetulnya merupakan wewenangnya pemerintah pusat. "Tidak masalah jika mereka ingin mengirimkan surat ke Pemprov Sumbar. Nanti akan kita coba untuk mengirimkan surat ke Kemlu," kata dia.

Ia menyarankan mahasiswa di sana segera melaporkan dirinya ke KBRI Khartoum karena KBRI di sana telah mewakili pemerintah di Indonesia. "Pemerintah pasti akan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Untuk itu pemerintah kita pasti akan bertanggung jawab terhadap mahasiswa yang terdampak COVID-19 di Sudan," kata dia.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR