ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Wapres Peringatkan soal Metode Belajar Jarak Jauh

14 Mei 2020
Wapres Peringatkan soal Metode Belajar Jarak Jauh
Wakil Presiden Ma’ruf Amin (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Konsep new normal kini makin populer di masyarakat. Sejak pandemik virus corona berlangsung dan negara menerapkan kebijakan  fisik dan sosial, publik pun terbiasa dengan membatasi aktivitas di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Kebiasaan ini pun melahirkan makna new normal, yang makin didengungkan pemerintah. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmita menjelaskan definisinya. Menurut dia, new ormal merupakan kehidupan yang akan dijalankan seperti biasa ditambah dengan protokoler kesehatan. New normal diusulkan sejalan dengan belum ditemukan vaksin atau penangkal virus corona.

"Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai tertemukannya vaksin untuk Covid-19 ini," kata Wiku saat menggelar konpers di Graha BNPB yang disiarkan lewat chanel Youtube, Selasa, 12 Mei 2020 lalu.

Masyarakat pun diminta menyesuaikan dengan penataan kehidupan baru ini plus perilaku baru sebagai dampak sosialnya. Imbas ini juga menyentuh bidang kehidupan lain, yang menjadi efek berlangsungnya pandemik COVID-19. Pemerintah bahkan telah memperingat akan adanya perubahan yang bakal terjadi. 

Wakil Presiden Ma’ruf Aminmengatakan sebagai dampak dari pandemi COVID-19 masyarakat harus siap dengan penerapan kegiatan belajar dan mengajar dari jarak jauh sebagai pengganti metode belajar konvensional.

“Dalam situasi pandemi saat ini, kita perlu melakukan banyak penyesuaian termasuk dalam pembelajaran. Kita harus siap melakukan pembelajaran jarak jauh sebagai pengganti metode pembelajaran konvensional,” kata Wapres Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan dalam Talkshow Bersama Rektor dari Jakarta.

Kegiatan belajar dan mengajar dari jarak jauh merupakan suatu keniscayaan mengingat perkembangan teknologi yang maju pesat saat ini. Kegiatan belajar secara daring itu juga memerlukan tantangan, antara lain kreativitas tinggi dari para pengajar.

“Pembelajaran jarak jauh membutuhkan kreativitas. Para pengajar perlu keluar dari gaya konvensional dan lebih inovatif dalam menyiapkan materi dan mekanisme pembelajaran,” tambahnya.

Tantangan yang bakal dihadapi

Lembaga pendidikan juga harus mampu menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung serta mengoptimalkan teknologi dalam kegiatan belajar jarak jauh.

Sementara itu dari sisi pelajar dan mahasiswa, Ma’ruf Amin mengatakan perlu kemandirian dan sikap proaktif agar kegiatan belajar jarak jauh dapat berjalan dengan baik. “Mahasiswa juga dituntut harus lebih mandiri. Mahasiswa harus dapat memanfaatkan seluruh sumber pengetahuan untuk melengkapi proses pembelajaran jarak jauh ini,” jelasnya.

Selain tantangan-tantangan tersebut, lanjut Ma’ruf, pembelajaran jarak jauh juga memberikan keuntungan bagi banyak perguruan tinggi dalam melakukan sinergi. Dengan penggunaan teknologi, tidak ada lagi sekat antar satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain, katanya.

“Mahasiswa dapat dengan mudah mengikuti kuliah dari perguruan tinggi yang berbeda sepanjang sesuai dengan minatnya. Selain itu, pertukaran pengetahuan, hasil riset, dan kegiatan akademik lainnya juga akan semakin efektif,” katanya.

Oleh karena itu, Wapres Ma’ruf berharap metode belajar dari jarak jauh, khususnya untuk program studi ekonomi syariah, harus dapat berkembang baik dengan tetap menerapkan standar penilaian layaknya kegiatan belajar secara konvensional.

“Tidak boleh ada excuse terhadap kualitas, baik kualitas pembelajaran maupun pengujian. Mahasiswa harus tetap bisa diuji dengan standar yang sama dengan pembelajaran konvensional sehingga kualitas pembelajaran dan lulusan program studi ini tetap dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan,” ujarnya.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR