ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Refleksi Pembelajaran Jarak Jauh

05 Juni 2020
Refleksi Pembelajaran Jarak Jauh
Ilustrasi foto kegiatan belajar mengajar sebelum virus corona melanda. (Foto: Istimewa)
Oleh: Honayapto, S.Pd, MPd

SIAPA yang menduga, jauh di pelosok desa yang hijau, asri, nan tenteram, kegiatan belajar-mengajar di sekolah terpaksa harus 'dihentikan'. Ditandatangi pada 24 Maret 2020 surat Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam penanganan penyebaran COVID-19, mengarahkan kegiatan sekolah dilaksanakan dengan skema pembelajaran jarak jauh. 

Sudah hampir dua bulan kegiatan daring atau luring dilaksanakan, virus Corona seperti semakin membuka singkap disparitas dan persoalan kompleks dunia pendidikan.
Dari permasalahan jaringan listrik, ketersediaan alat komunikasi (hape, laptop, komputer), gangguan jaringan, harga pulsa, sampai kegiatan interaktif-komunikasi, yang tidak berjalan dengan baik dalam forum pembelajaran yang disiapkan guru.

Belum lagi, kemampuan digital-teknologi guru, siswa, dan orang tua siswa yang gaptek, ditambah kesulitan dalam adaptasi lingkungan pembelajaran yang baru semakin memperjelas problem yang ada.

Dalam forum diskusi bersama, Mas menteri juga kaget dengan permasalahan ini. Geger virus Corona juga semakin ajib saja, dunia pendidikan heboh, guru-guru bersuara, Indra Charismiadji Direktur Eksekutif Center for Education Analysis (CERDAS) memberikan kritik pedas terhadap profesi guru, sumbang saran ini menyasar guru-guru yang tidak berkualitas, pandangan gaji buta dosen dan guru, serta tuntutan gaji besar namun tidak dibarengi kompetensi yang mumpuni. 

Apa yang disampaikan pengamat pendidikan ini pada dasarnya baik, beberapa hal yang disampaikan juga seperti antidot keruwetan pendidikan kita. 

Namun, kritik dari praktisi sekaligus pengusaha ini menyoroti profesi guru lebih tajam, pergerakan mindset perubahan pendidikan yang dirasa jalan di tempat sepertinya adalah 'kesalahan besar' guru. Siswa tidak berkualitas karena gurunya tidak berkualitas.

Padahal kesuksesan siswa tidak hanya bergantung pada satu faktor. Orang-orang yang bergelut dalam dunia pendidikan pasti akan mafhum dengan konsep ini, telinga kita diakrabi dengan kata nativisme, empirisme, dan konvergensi.

Guru Bergerak, Siswa Aktif, Orang Tua Lebih Proaktif
Sebagai guru yang melaksanakan pembelajaran secara daring dan luring, jujur ada banyak kendala yang dihadapi, kegiatan belajar yang mengarahkan tidak adanya interaksi fisik secara dekat, memunculkan beberapa permasalahan; siswa yang tidak memiliki hp, kesulitan membeli pulsa, sampai peran yang tidak aktif dari siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut.

Sebagai sampel, selama belajar dari rumah, saya mendistribusikan topik-topik pembelajaran bahasa Inggris yang mendorong siswa untuk memaksimalkan interaksi dengan
anggota keluarga di rumah. 

Seperti apa profesi ayah, ibu, kakak atau adik?, bagaimana interkoneksi keluarga tersebut?, sehingga siswa dapat secara mendalam memahami fungsi, hak, dan kewajiban yang dibangun dalam sebuah institusi keluarga.

Saling memahami peran, bekerjasama, saling membantu, menjadi fungsi sosial yang ditonjolkan dalam sebaran materi saya. 

Ditambah pengayaan konsep berbahasa Inggris secara struktural, dan kemampuan mendeksripsikan suatu objek diharapkan dapat membantu siswa mengenali lingkungan sosialnya, sehingga kewaspadaan pada pandemi, dan orientasi pada lingkungan-lingkungan yang komprehensif dapat membantu siswa melakukan tela'ah dengan tepat. 
Siswa paham virus Corona, maka dia akan lebih berhati-hati. 

Namun fakta yang terjadi, distribusi edukasi yang coba saya laksanakan dengan skema 'door to door', dan tutor sebaya, pada siswa-siswa yang tidak secara langsung mendapat instruksi dalam pembelajaran online, berjalan dengan tidak efektif.

Dari sampel sebanyak 59 siswa kelas VII, siswa yang aktif pembelajaran jarak jauh hanya 17 orang atau sekitar 28,81%, sisanya 42 orang atau 71,19% sama sekali acuh tak acuh, padahal siswa yang memiliki alat komunikasi dan aktif dalam bimbingan online sebanyak 39 siswa atau 66,10% lebih besar dibanding yang tidak punya hp dan tidak aktif, jumlahnya hanya 33,90% atau 20 orang.

Data ini jelas menimbulkan beberapa asumsi bagi saya:
1. Siswa kesulitan mengubah cara belajar konvensional dari tatap muka berubah dengan fitur Virtual, 
2. Semangat belajar, dan tidak membantu teman lainnya menunjukkan sikap yang tidak respektif terhadap pendidikan,
3. Orang tua masih menganggap sekolah sebagai institusi yang prestisius; kegiatan belajar mengajar hanya resmi terjadi di sekolah, dan
4. Peran lingkungan yang diisi dengan kegiatan yang tidak produktif (bermain game, chatting) dan tidak edukatif juga menjadi salah satu faktor tidak efektifnya pembelajaran.

Hal ini diperkuat dengan observasi di lingkungan masyarakat saya.

Pembelajaran jarak jauh akan menjadi sia-sia jika guru telah bergerak, namun tidak diikuti langkah cepat dari para siswa serta pengawasan ketat dari orang tua dan wali murid.
Hal yang diterangkan di atas tentu adalah sebagian dari fakta lapangan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Kesimpulan
Virus COVID-19 telah membuktikan bahwa sekolah bukanlah institusi independen, di mana semua manajemen pendidikan diserahkan pada kepala sekolah dan guru.  Siswa tidak hanya belajar dari rumah, kegiatan pembelajaran sejatinya terjadi di rumah, di lingkungan sosial kita.

Sekolah dan elemennya merupakan bagian rekayasa negara dalam memanipulasi perilaku (behavior modification) warga negaranya, mengisi dengan sederet kompetensi sosial, relijitas, yang sesuai dengan kurikulum sebagai jawaban atas tantangan berdinamika secara lokal dan global. 

Setidaknya itu yang kita rasakan di tengah gencarnya infeksi virus asal Wuhan, Hubei-China ini.

Sebagai penutup, peran guru yang aktif akan menghasilkan efek yang baik, jika guru, siswa, dan lingkungan sosial turut bersinergi dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh.  Wujudnya Seperti apa?, ini menjadi tugas bersama, mengamati, berbicara, dan menyatakan pendapat bersama. 

Mengubah mindset pendidikan, dan tidak menyalahkan satu sama lain atau membebani guru dengan tuduhan-tuduhan yang nakal, juga salah satu wujud sinergitas yang baik membangun pendidikan.

Fight for the future! Terima kasih.

Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMPN.1 Kambowa-Buton Utara.


Editor: Honayapto, S.Pd, MPd
KOMENTAR