ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Christofani Ekapatria SpOG-KFER, Kesetiaan dan Sukacita Menjalani Peran Sebagai Dokter dan Pengajar

02 Juli 2020
Christofani Ekapatria SpOG-KFER, Kesetiaan dan Sukacita Menjalani Peran Sebagai Dokter dan Pengajar
Franciscus Caracciolo Christofani Ekapatria SpOG-KFER Dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Rumah Sakit Siloam Lippo Village (Istimewa)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Menjadi dokter ahli di bidang kandungan, memang bukan cita-citanya sejak awal. Bahkan dokter dengan kemampuan yang jarang dimiliki para tenaga medis ini, sempat tumbang manakala pertama kali berada di ruang bedah. “Waktu itu pertama kalinya saya diajak operasi ceaser. Saya yang memang takut sama darah, langsung pingsan di tempat,” kata dr. Franciscus Caracciolo Christofani Ekapatria SpOG-KFER,  Dokter spesialis obstetri dan ginekologi di  Rumah Sakit Siloam Lippo Village.

Namun pengalaman itu tak memudarkan niatnya menjadi seorang dokter. Ia bahkan ‘uji nyali’ mengalahkan ketakutannya, bahkan kini terbiasa menangani ratusan pasien di kamar bedah. “Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Seperti adrenaline junkie gitu, membuat saya terus belajar dan belajar lagi” katanya, mantap.

Kesempatannya menolong kaum ibu melahirkan seorang insan ke dunia, diungkapnya sebagai kebahagiaan yang tak ternilai. Apalagi bila ditemuinya sepasang suami-istri yang mengalami kesulitan mendapatkan buah hati, dan ia berhasil membantu mewujudkan impian  mereka memiliki putera. “Inilah kebahagiaan dan kesenangan yang menjadi energi bagi saya untuk terus menekuni bidang fertilitas,” ungkap dokter kelahiran Yogyakarta, 4 Juni 1982 ini.

Telah sekian banyak kandidat Doktor Program Pendidikan Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung ini, dimintai kesediannya memberikan nama bagi bayi yang telah dibantunya dalam persalinan. “Ini juga anugerah yang luar biasa bagi saya,” kata dr. Christo, sapaan dokter yang kerap mengikuti pelatihan ilmiah di mancanegara ini.

Sebagai dokter ahli kandungan, dr. Christo memiliki ketertarikan khusus dalam menangani pasien dengan menggunakan tekni laparoskopi.  Laparoskop berbentuk seperti sebuang tabung kecil. Alat ini dilengkapi dengan cahaya dan kamera yang berfungsi untuk menyampaikan gambar bagian dalam perut atau panggul ke monitor yang tertayang di luar. Menurutnya, cara ini memang banyak dipilih lantaran memiliki beberapa keuntungan. Di antaranya waktu pemulihan yang lebih cepat, pengurangan rasa sakit dan perdarahan pascaoperasi, serta mencegah timbulnya jaringan parut.

Meski sarana ini terbilang telah lama dimanfaatkan, namun di Indonesia sendiri, diakuinya masih sangat terbatas, lantaran penggunaan alat ini membutuhkan tenaga medis yang terampil dengan  kelengkapan instrumen teknologi kesehatan tertentu. “Inilah kemajuan di bidang kedokteran. Bahkan kini di negara lain telah memanfaatkan robotik sebagai media pengerjaannya,”  ungkap dokter lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis I Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung ini.

Maka ia terus menekankan tentang pentingnya mempelajari pengetahuan baru berikut saran teknologi mutakhir di bidang kedokteran. “Selain keingintahuan yang besar, minat akan teknologi juga harus dikembangkan para dokter, termasuk dokter-dokter muda yang berniat memperdalam ilmunya,” ungkap dokter yang pernah mengikuti  Program Pendidikan Konsultan Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi Fakultas Kedokteran UNPAD – RS Hasan Sadikin Bandung ini.

Karena kegemarannya untuk mempelajari ilmu baru di bidang kesehatan, dr. Christo juga menikmati perannya sebagai pengajar alias dosen di Universitas Pelita Harapan. Sejak bulan Juni Tahun 2013 hingga saat ini, ia terdaftar sebagai  Staf departemen obstetri dan ginekologi Fakultas Kedokteran  Universitas Pelita Harapan.

Perannya sebagai pendidik, juga diakui dr. Christo sebagai sarananya menyumbangkan pemikiran-pemikiran baru di bidang kesehatan, khususnya fertilitas. Menurutnya, kini UPH tengah mengembangkan metode efektif agar sistem pengajaran bisa mengadopsi perkembangan mutakhir sehingga para mahasiswa terbiasa menangani kasus-kasus kekinian. “Mereka harus dilatih agar bisa bersinggungan dengan masalah yang timbul di bidang kebidanan, terlebih kasus terkini,” papar dr. Christo.

Diakhir perbincangan, dokter yang gemar menggeluti media teknologi ini menitipkan pesan bagi para calon dokter yang berniat mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. “Jangan pernah patah semangat dan takut, apalagi menghadapi situasi sulit di tengah wabah coronavirus ini. Percayalah saat ini pusat pendidikan kedokteran sedang mencari cara bagaimana tetap melangsungkan pengajaran ditengah situasi pandemi. Dan teknologi sudah banyak membantu. Tetaplah setiap pada cita-cita mulia kalian,” papar dr. Christo.

Reporter: Theresia Masang


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR