ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Internet Mahal..Mereka Coba Patungan..

01 Agustus 2020
Internet Mahal..Mereka Coba Patungan..
Pembelajaran bersama secara daring (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Masih berlangsung pandemi di awal bulan Agustus ini, makin memperpanjang masa orang lebih banyak menjalani aktivitasnya di rumah. Bagi para pekerja, internet menjadi kebutuhan pokok dalam mengerjakan tugas, lantaran kebijakan new normal yang membatasi akvitisal berskala luas. Termasuk para pelajar yang harus menjalani pembelajaran di rumah dengan menggunakan fasilitas internet.  Dengan demikian, dibutuhkan biaya ekstra untuk mendapatkan sambutan internet berkuatan sehingga pengajaran secara online bisa berjalan dengan lancar.

Berikut ini, adalah pengalaman seorang Ketua RT yang mensiasati kondisi dengan menggunakan jaringan internet seefektif mungkin, sehigga baik pembelajaran maupun menjalankan tugas-tugas lainnya dapat berjalan dengan baik.   

Saya kebetulan ketua RT di daerah saya yang berinisiatif memasang Indihome untuk mengakses internet anak-anak sekolah di lingkungan RT saya. Caranya ya seperti ini :

1. Satu rumah tidak dihitung berapa jumlah anak yang sekolah, tapi dihitung per-KK  wajib menabung 1000 rupiah per hari, disimpan di toples dinding depan rumah yang diambil setiap akhir bulan oleh karang taruna, jadi dalam 1 bulan setiap rumah mengumpulkan 30 ribu rupiah nah ini dikumpulkan dari 55 kk.

2. Dari 1,6 juta yang terkumpul, 600 ribu untuk membayar akses internet  50 MBPS, sisa 1 juta dipergunakan untuk membeli kertas beberapa Rim ,beli tinta printer, jadi kalau ada tugas yg mesti di print..ya tinggal di print saja. Tidak perlu ke warnet atau ke rental komputer untuk membayar uang transport guru-guru yang mau datang mengajar di kampung kami.

3. Dibalai RT pun di sediakan komputer hasil sumbangan orang mampu dikampung kami. Anak-anak yang tidak punya HP dipinjamkan HP dari anak Karang Taruna yang mengurusi kegiatan belajar bersama dikampung kami. Anak-anak muda lulusan SMA/SMK/D3 yang masih menganggur dan mau membimbing dikasih kerjaan membimbing adik-adiknya di kampung, dibayar sehari 20 ribu dari uang kas RT.

SOLUSI dikampung saya ya seperti itu, cukup menabung sehari 1000 rupiah per rumah. Orang tua yang kerja ya silahkan kerja, yang usaha silahkan usaha, di kampung ada anak-anak muda yang tidak bekerja diberi tugas bimbing adik-adiknya yang sekolah, dibayar sehari 20 ribu bagi yang mau mengajari adik-adiknya.

Mengumpulkan uang buat beli proyektor kecil, ini tujuannya biar membuka akses RUANG GURU lebih besar tangkapan layarnya, jadi anak-anak bisa fokus ke layar besar tanpa harus membuka HP, karena tidak semua anak punya HP. Kalau ada anak yang dari luar kampung kami mau ikut belajar dikarenakan tidak mempunyai HP, ya kami persilahkan dengan catatan diperiksa dulu setiap hari kesehatannya, mengikuti aturan di kampung kami.

Di balai RT disediakan meja ke meja diatur jaraknya, yang mengatur sesuai prosedur kesehatan/sosial distancing.

Hanya 1000 rupiah perhari, sangat bermanfaat. Setelah proses belajar online selesai,  WIFI dimatikan, karena ini hanya akses buat belajar saja. Bukan untuk dipergunakan untuk membuka akses YouTube atau buat mengakses games, tiap hari pasword diganti,  agar  tidak dipakai sembarangan oleh anak-anak yang tidak sekolah.

Demikianlah contoh kegiatan ini seperti halnya di kampung saya.

Sekian, terima kasih


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR