ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Angela Prisca Kangen Sama Teman-teman,"Saya Pingin Peluk Mereka"

16 Oktober 2020
Angela Prisca Kangen Sama Teman-teman,
Aktivitas belajar daring yang dijalani Maria Angela Prisca Rajalewa yang disapa Icha, siswi kelas 3 SD Santa Theresia, Depok, Jawa Barat dalam kegiatan Belajar Mengajar sehari-hari di rumah. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Belajar daring yang telah berjalan lebih tujuh bulan berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa bosan dengan aktivitas di rumah saja, anak juga dituntut beradaptasi belajar dari rumah yang pasti berbeda dengan di kelas sehingga hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kondisi tertekan pada psikis anak dan berpotensi munculnya stres pada anak.

Staf Sub-bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, Lyly Puspa Palupi mengatakan belajar jarak jauh atau daring berpotensi memunculkan stres pada anak, bila tidak diatasi dengan pendampingan orang tua di rumah.

Adalah seorang siswi bernama Maria Angela Prisca Rajalewa yang disapa Icha ketika berbincang dengan media ini soal belajar daring, Jumat (16/10/2020) dengan polos mengomentari suka dukanya belajar daring. 

Siswi kelas 3 SD Santa Theresia, Depok, Jawa Barat ini menyadari betul mengapa harus belajar daring bukan di sekolah. Icha bilang bahwa saat ini dunia dilanda pandemi COVID-19 yang diketahuinya  sebagai virus yang berbahaya dan mematikan berkenaan dengan paru-paru dan pernafasan manusia.

Nah, karena itu kata putri dari Agnes Fitrina dan Edy Rajalewa ini Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung di rumah sehingga dapat mencegah tersebarnya virus jika siswi berkumpul dalam jumlah banyak.

Icha kepada media ini bercerita suka duka belajar daring. "Saya suka karena tugasnya terbatas. Dan juga bisa lihat teman-teman. Tapi saya tidak suka karena koneksi internetnya tidak bagus dan biasanya saya keluar dari zoomnya,"tuturnya polos.

Menurut Icha bagus ngga belajar online?  Icha kemudian menjawab," Bagus sih bagus tapi sinyalnya. Terus saya sih suka gara-gara bisa lihat teman-teman dan muka-mukanya lewat zoom,"ujarnya.

Ketika ditanya apakah Icha ngga kangen sama teman-teman? Dengan semangat Icha langsung menjawab,"Kangen banget dan saya pingin peluk mereka!"

Meski di rumah, sekolah mewajibkan siswa-siswinya memakai seragam sekolah. Dminta mengomentari hal ini Icha malah bilang,"Suasananya ngga suka gara-gara mata saya sakit untuk melihat kecerahan dari laptopnya. Dan saya cepat ngantuk gara-gara laptopnya dan sinyalnya". 

Icha mengaku ketika sedang  belajar daring lebih banyak dijalankan sendiri karena kedua orang tuanya pun harus bekerja. Bapa-Mama selama Icha belajar apakah membantu? "Iya membantu tapi Papa sama Mama biasanya terbatas waktunya. Jadi contoh Papa temaninya hanya sampai batas jam 9 dan berangkat kerja jam 9. Pas udah jam 9 Papa pergi ke kantor dan Icha kerja sendiri,"tuturnya polos.

Soal belajar daring ini Icha mengaku memang bikin seru dan menyenangkan namun demikian masalah sinyal, koneksi internetnya yang menurutnya jadi masalah baginya dan mungkin bagi teman-temannya juga. Dan, Icha juga mau ketemu teman-temannya. "Kangen....,"ujarnya.

"Dampak belajar daring yang telah berjalan lebih tujuh bulan berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa bosan dengan aktivitas di rumah saja, anak juga dituntut beradaptasi belajar dari rumah yang pasti berbeda dengan di kelas sehingga hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kondisi tertekan pada psikis anak dan berpotensi munculnya stres pada anak," kata Lyly, Minggu (4/10/2020) lalu.

Ia menjelaskan dampak belajar di rumah secara daring juga dirasakan sulit untuk diikuti oleh sebagian anak-anak yang membutuhkan penjelasan melalui interaksi langsung dengan guru. Selain itu, hilangnya kesempatan bermain dengan teman sebaya yang menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi anak usia sekolah.

Selama pelaksanaan belajar dari rumah, para siswa juga memperoleh tugas sekolah. Jika dalam pengerjaannya, tugas sekolah dominan diselesaikan oleh orang tuanya, tentu akan menimbulkan dampak ke depannya. Dampaknya, si anak akan mengalami ketergantungan pada bantuan orang lain, kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas, dan cenderung menjadi anak yang kurang percaya diri.


Icha belajar daring melalui zoom. (Foto: Dok. Pribadi)

Agnes Fitrina,  orang tua Icha yang juga seorang Guru di sekolah Theresia, Depok saat menemani Icha wawancara dengan media ini berkomentar seputar peran orang tua mendampingi anak belajar daring. "Orang tua, susah juga ya karena harus bekerja dan meninggalkan anak di rumah. Anak juga karena tidak ada yang membimbing, tidak ada yang membantu untuk menerangkan materi pelajaran seperti ibu gurunya jadi susah juga untuk mengerti pelajaran. Jadi pelajarannya biasanya kalau tugas-tugas yang tidak dimengerti menunggu orang tua sampai datang dan baru dibantu untuk mengerjakannya. Memang agak susah karena materi pelajarannya banyak membutuhkan penjelasan dari gurunya sedangkan orang tua waktunya juga terbatas,"tuturnya menutup perbincangan.


Editor: Farida Denura
KOMENTAR