ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Kemerdekaan, Kemandirian, dan Merdeka Belajar

15 Mei 2021
Kemerdekaan, Kemandirian, dan Merdeka Belajar
Ilustrasi: Merdeka belajar. (Tribunnews)

 Oleh: Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd

AWAL abad ke-20 mulai muncul yang disebut “Kebangunan Nasional” (Ki Hadjar, 2008:208-209). Sistem pendidikan diwarnai “kolonial lunak”, yang dalam sistem pendidikannya  tetap menunjukkan sifat, intelektualistis, individualistis, dan materialistis, yang tidak mengandung cita kebudayaan. Padahal Pendidikan dan pengajaran itu harus bersifat pemeliharaan tumbuhnya benih-benih kebudayaan. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh bangsa kita tidak melepaskan dari belenggu intelektualisme, individualisme, dan materialisme dalam kolonialisme. Tahun 1900 cita-cita R.A. Kartini telah mengobarkan jiwa nasionalisme, demikian juga Dokter Wahidin Sudirohusodo (1908) telah mengangankan nasionalisme dan kultural, namun sistem pendidikan dan pengajaran tidak berubah, masuknya anasir kebudayaan untuk mewujudkan perguruan kebangsaan tidak dapat menghapuskan corak warna jiwa kolonial.

Jiwa merdeka/ kemerdekaan mulai bangkit pada tahun 1920, yang ditandai timbulnya cita-cita baru yang menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Cita-cita baru itu gabungan kesadaran kultural  dan kebangkitan politik menuju kemerdekaan nusa dan bangsa sebagai jaminan kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa, yang akhirnya menjadi inti sistem pendidikan dan pengajaran  Tamansiswa yang berdiri tahun 1922 di Yogyakarta (Ki Hadjar, 2008:209). Tahun ini berdiri perguruan Tamansiswa dan  sekolah-sekolah yang berdasarkan keagamaan (Islam, Kristen, Katolik) sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapatkan subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda. Di sinilah dasar-dasar kebudayaan bangsa, jiwa politik nasional, dan semangat revolusioner mulai terbangun.

Bangkitnya jiwa merdeka dibarengi dengan jiwa kemandirian. Hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dengan mendasarkan pada tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum, dengan tujuan tertib dan damai. Bertumbuh menurut kodrat untuk segala kemajuan dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Maka, Pendidikan yang beralaskan syarat “paksaan-hukuman-ketertiban" merupakan pemerkosaan hidup kebatinan anak. Metode Among, pendidikan dengan pemeliharaan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Pendidikan berarti mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Guru harus mendidik murid untuk mencari sendiri pengetahuan dan menggunakannya untuk keperluan umum.

Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang bertujuan untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya. Ini berarti bahwa hidup tumbuhnya anak-anak terletak di luar kecakapan atau kehendak dari kaum pendidik. Anak-anak tumbuh menurut kodratnya sendiri. Pendidik hanya menuntun tumbuhnya anak agar dapat memperbaiki  tumbuh  dan lakunya hidup (Ki Hadjar, 2011:14-18).

Kemerdekaan dan kemandirian sebagaimana diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara merupakan cikal bakal dari program “Merdeka Belajar” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Ristek. Sebagaimana dijelaskan Mendikbud Ristek, kata "Merdeka Belajar" paling tepat digunakan sebagai filosofi perubahan dari metode pembelajaran yang terjadi selama ini. Sebab, dalam "Merdeka Belajar" terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan untuk menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran. Ada dua yang mendasari “Merdeka Belajar”, yang diambil dari filsafat Ki Hadjar Dewantara mengenai dua konsep, satu adalah kemerdekaan, kedua adalah kemandirian,” kata Nadiem (Kompas.com, Agustus 2020).

Hanya kita harus memiliki daya kritis yang tinggi terhadap program “Merdeka Belajar”, karena  “Merdeka Belajar” menjadi nama sebuah program yang diambil dari Sekolah Cikal yang sudah menjadi merek dagang dan telah terdaftar hak ciptanya, yang dihibahkan ke Kemendikbud Ristek. Semua program Kemdikbud Ristek dibingkai dalam program “Merdeka Belajar” (sampai akhir April 2021 sudah episode 10 tentang beasiswa LPDP),  dan tidak semua bermakna kemerdekaan dan kemandirian, bahkan program lama yang sudah berjalan pun dibingkai juga dalam kebijakan “Merdeka Belajar”.

Berdasarkan uraian di atas perlu disampaikan di sini, oleh karena program “Merdeka Belajar” bertujuan  mengembangkan kemerdekaan dan kemandirian sebagaimana filsafat Ki Hadjar, maka perlu ada program unggulan yang arahnya memang benar-benar untuk membangkitkan kemerdekaan  dan  kemandirian siswa dan atau mahasiswa agar tumbuh menurut kodratnya sendiri, kodrat untuk segala kemajuan yang dimerdekakan seluas-luasnya.

Pendidikan diarahkan untuk mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Kemerdekaan dan kemandirian dapat mengarahkan guru untuk mendidik murid mencari sendiri pengetahuan dan menggunakannya untuk keperluan umum. Kemerdekaan dan kemandirian harus menghargai hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dengan mendasarkan pada tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum, dengan tujuan tertib dan damai. Kemerdekaan dan kemandirian yang dapat menumbuhkan semangat “Kebangunan Nasional”  dimana sistem pendidikan nasional tidak menunjukkan sifat intelektualistis, individualistis, dan materialistis, melainkan mengandung cita kebudayaan dengan mengobarkan  jiwa nasionalisme dan kultural.

Semboyan “tut wuri andayani” yang sekarang menjadi ”Tutwuri Handayani”, yang sudah lama dijadikan moto dan logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek,  yang bermakna memberi kebebasan yang luas selama tidak ada bahaya yang mengancam perlu diimplementasikan secara baik. Semboyan ini merupakan sikap yang terkenal dalam hidup kebudayaan bangsa kita sebagai  sistem “among”, yang di dalamnya mengandung pengertian-pengertian: kemerdekaan, kesukarelaan, demokrasi, toleransi, ketertiban, kedamaian, kesesuaian dengan keadaan dan suasana, dan sebagainya.

 

Penulis adalah Guru Besar Pascasarjana Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)


Editor: Prof. Dr. Sutrisna W
KOMENTAR