ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Kisah Pelajar dari Mapitara Naik Bus Kayu, Berjuang Ikut Simulasi ANBK di Kota

16 September 2021
Kisah Pelajar dari Mapitara Naik Bus Kayu, Berjuang Ikut Simulasi ANBK di Kota
Bus kayu trayek Mapitara-Maumere (PP) mengangkut 2 kelompok siswa-siswi dari SMP PGRI Lero Hae dan SMP Negeri Mapitara. (Foto-Foto: VJ Chabarezy Jr)

BUS kayu trayek Mapitara-Maumere (PP) yang menjadi angkutan penumpang warga se-Kecamatan Mapitara tampak berbeda. Pasalnya pada hari itu mengangkut 2 kelompok siswa-siswi dari SMP PGRI Lero Hae dan SMP Negeri Mapitara beserta para guru pembimbing dan Kepala Sekolah masing-masing berangkat menuju kota Maumere,

Kedatangan mereka ke kota, tak lain untuk mengikuti simulasi Asesemen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang akan berlangsung pada bulan Oktober 2021.

Sekitar 91 siswa-siswi dari kedua sekolah tersebut beserta para guru pembimbing, dan Kepala Sekolah harus rela berdesak-desakan naik bus kayu menuju Kota Maumere.

Sungguh tragis, perjuangan mereka untuk mengikuti simulasi ANBK di kota Maumere ini dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 60 km dan memakan waktu 4 jam. Perjalanan begitu jauh dan sangat melelahkan. Maklum, jalan yang dilewati adalah jalan rabat dengan kondisi rusak parah hampir puluhan kilometer, apalagi harus melewati hutan, mendaki bukit serta menuruni lembah agar bisa sampai di kota.

Para siswa-siswi kedua sekolah ini akan mengikuti kegiatan simulasi ANBK di SMPK Frater Maumere, karena sekolah itu dianggap mempunya fasilitas laboratorium komputer yang lengkap dan memadai. Kegiatan sendiri berlangsung selama dua hari yakni pada Rabu (15/9/2021) dan Kamis (16/9/2021).

Kondisi geografis dan minimnya fasilitas penunjang di sekolah mereka untuk digelarnya gladi ANBK tidak menyurutkan niat dan mematahkan semangat mereka. Justru, memacu tekad untuk terus berjuang agar bisa mengikuti kegiatan gladi ANBK tersebut demi mencapai cita-cita yang mereka impikan.

Yunita Hartati salah satu siswi SMP PGRI Lero Hae Hebing kelas VIII. 

Yunita Hartati salah satu siswi SMP PGRI Lero Hae Hebing kelas VIII menuturkan bahwa untuk mengikuti ujian nasional berbasis komputer, semua siswa Kelas VIII harus mengikuti simulasi ANBK terlebih dahulu. Oleh karena di sekolahnya tidak ada komputer dan jaringan internet serta jaringan listrik maka dirinya bersama teman-teman yang lain harus rela jauh jauh datang ke kota Maumere tepatnya di SMPK Frater Maumere untuk mengikuti kegiatan gladi tersebut.

Hal senada juga disampaikan Euthalia Nixie Ariesta Roby pelajar kelas VIII asal SMPN Mapitara. Nixie mengatakan bahwa di sekolah mereka juga tidak ada komputer, jaringan internet dan listrik jadi dirinya bersama teman-teman dan para guru pendamping datang ke SMPK Frater untuk mengikuti simulasi ANBK. “Kami dari kampung harus naik mobil truk berdesak desakkan sampai di Maumere kami nginap di salah satu rumah guru di Wairhubing. Ada juga yang nginap di rumah keluarga,”tutur Nixie,”ceritanya.

Dikatakan Nixie untuk ke kota ia bersama teman-temannya harus mempersiapkan bekal berupa beras, sayur, ubi pisang untuk makan saat menginap di rumah keluarga di kota selama kegiata tersebut. Dirinya merasa bersyukur bisa mengikuti gladi Asessmen Nasional Berbasis Komputer bersama teman-temannya di Sekolah SMPK Frater walapun awalnya kata dia kami merasa minder dengan teman-teman di SMPK Frater, tetapi setelah dua hari kegiatan ini kami bisa beradaptasi dan dapat teman baru di sekolah ini.

Euthalia Nixie Ariesta Roby pelajar kelas VIII asal SMPN Mapitara.

Mereka juga berterima kasih kepada Kepala sekolah SMPK Frater bersama seluruh para guru yang telah memberikan ruang dan menerima mereka untuk dapat melaksanakan kegiatan ANBK di sekolah itu.

Nixie dan Yuni bersama teman-temannya berharap agar sekolah mereka juga bisa mendapatkan fasilitas komputer dan jaringan internet yang baik sehingga tidak perlu bersusah-susah ke kota lagi untuk mengikuti gladi ANBK ini.

Sementara itu Stella Thalita Gate pelajar SMPK Frater Maumere berpesan kepada kedua temannya dari Mapitara agar tetap berjuang terus untuk mengejar cita-cita mereka jangan patah semangat walaupun dit engah keterbatasan sarana dan minimnya fasilitas.

“Perjuangan mereka sangat luar biasa, saya bangga dengan mereka. Saya bangga dengan teman-teman di daerah terpencil walaupun kalian memiliki kerbatasan sarana dan minimnya fasilitas tapi kalian tetap semangat untuk berjuang demi meraih cita cita. Kalian tidak boleh berhenti sampai di detik ini. Jangan pernah berhenti dengan kesulitan yang kalian hadapi, jangan pernah berhenti dengan tantangan yang kalian hadapai apalagi membunuh masa depan kalian,” pesan Stella menyemangati mereka.


Reporter: VJ Chabarezy Jr

 


Editor: Farida Denura
KOMENTAR