ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Dr Jan Aliandoe, Dokter Misionaris, Ahli Bedah Pertama Asal Flores

08 November 2021
Dr Jan Aliandoe, Dokter Misionaris, Ahli Bedah Pertama Asal Flores
Dokter Johannes Aliandoe. (Foto: Istimewa)

Oleh: Ans Gregory da Iry

BAGI sebagian masyarakat Flores, khususnya  Larantuka di Flores Timur dan Lela di Sikka, pada tahun-tahun 1965-1980,  tentu sangat familiar dengan nama Dokter Johannes “Jan” Aliandoe. Beliau adalah dokter ahli bedah pertama asal Flores, lulusan sekolah kedokteran  di Belanda. Setelah berkarya selama beberapa tahun di RS. Lela, Dr.Aliandoe pindah ke Jakarta dan menjadi dokter di Rumah Sakit Akademik Atma Jaya di Pluit Jakarta Barat dan juga sekaligus sebagai dosen dan pembina mahasiswa kedokteran universitas Atma Jaya Jakarta. Setelah pensiun dari Atma Jaya, beliau kembali ke RS Lela dan menjabat direktur rumah sakit misi yang diasuh oleh para Suster Abdi Roh Kudus (SSpS), kemudian jatuh sakit dan wafat di RS Siloam Karawaci, Tangerang – Banten pada Maret 2011.

Dr. Jan Aliandoe adalah saudara dari Sinyo Aliandoe, tokoh dan pemain sepak bola serta pelatih PSSI yang terkenal di tahun 1960 – 1980an. Jika nama Sinyo sering masuk berita media massa dan jadi tokoh yang dikenal luas di Indonesia, maka Jan Aliandoe lebih suka bekerja dalam senyap, tidak pernah masuk media massa, tetapi tentu namanya dikenang oleh mereka yang pernah mendapat perawatan dan pengobatan darinya, baik di Lela, Flores maupun di kawasan Pluit, Jakarta tempat Dr. Aliandoe mengabdi dan melayani sampai akhir hayatnya.

Saya mengenal  Dokter Aliandoe pada tahun 1965, ketika  saya sekolah di SDK Lela I, dan beliau baru datang dari Belanda dan mulai bekerja sebagai dokter rumah sakit St. Elizabeth Lela. Dalam hidup saya, Aliandoe adalah dokter pertama yang memeriksa kesehatan saya dan memberikan surat keterangan sehat untuk bisa diterima sekolah di Seminari St. Johanes Berchmans Todabelu/Mataloko pertengahan tahun 1965. Tahun  berikutnya, ketika sudah di seminari Todabelu, saya mengalami sakit di perut dan oleh Pater Alfonsus Engels SVD,  tabib seminari, saya dberi surat pengantar untuk memeriksakan diri di rumah sakit Elizabeth Lela pada waktu liburan besar. Dokter yang memeriksa dan mengobati saya selama 4 atau 5 hari dalam perawatan di rumah sakit tersebut adalah Dokter Aliandoe.

Saya ingat Dokter Aliandoe, yang ramah dan gesit – jalannya cepat sekali – kemudian menikah dengan seorang perawat di rumah sakit itu. Ketika dilangsungkan pesta pernikahan mereka  di aula rumah sakit, banyak orang-orang dari kampung Lela dan sekitarnya datang menonton. Saya bahkan tidur di asrama karyawan rumah sakit, di mana dua orang kakak sepupu saya tinggal dan bekerja, agar bisa menonton acara pesta tersebut.

Beberapa tahun kemudian saya ke Jakarta, bekerja sebagai wartawan dan kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (IPK) Atma Jaya,  saya tahu bahwa Dokter Aliandoe sudah pindah ke Jakarta dan bekerja di rumah sakit medik Atma Jaya dan juga mengajar di Fakultas Kedokteran Atma Jaya. Saya pernah melihat beliau beberapa kali datang di kampus Semanggi tetapi tidak sempat bertegur sapa.

Dikirim Belajar di Negeri Belanda

Sebagaimana kita ketahui bahwa Gereja Katolik Flores menjalankan karya kerasulannya, salah satunya adalah lewat pendidikan, baik seminari sebagai pendidikan khusus bagi calon imam, maupun pendidikan umum bagi kaum awam yang kompeten yang dipersiapkan untuk kelak memimpin dan membangun masyarakat Flores. Pater Frans Cornelissen SVD adalah salah seorang yang memang oleh Gereja ditugaskan khusus di bidang pendidikan, dan beliau – tentu dengan persetujuan dan dukungan Gereja – mengirim sejumlah generasi muda awam katolik asal Flores dan Timor untuk setudi di Belanda. Mereka dikirim secara  berkelompok dalam beberapa gelombang sesuai dengan pertimbangan pembiayaan dan tempat mereka akan belajar baik di pendidikan tingkat menengah maupun di tingkat perguruan tinggi. Sebut saja: Bapak Frans Seda dan teman-teman seangkatannya, lalu menyusul gelombang lain, termasuk pemuda remaja Johanes Aliandoe.

Lahir di kota Larantuka, 20 Juni 1934 dari keluarga seorang guru, menempuh sekolah dasar atau sekolah rakyat 3 tahun, 1943-1946,  di Puhu, Adonara Timur  tempat ayahnya bekerja sebagai guru. Jan Aliandoe melanjutkan ke Herstelschakel School di Ndao – Ende, 1946-1948.

Karena kemampuan akademisnya yang menonjol, Jan Aliandoe dikirim oleh P. Frans Cornelissen SVD untuk meneruskan pendidikannya di Sekolah Menengah Bischoppelljk College, Sittard, Limburg, Belanda, 1949 – 1954 . Dan kemudian  mengikuti sekolah Kedokteran  Umum di Rijksunversiteit Groningen  Belanda, 1956 – 1963. Lulus dari sekolah kedokteran umum, dokter Aliandoe bekerja di Brunssum Ziekenhuis, Brunssum, Limburg, Belanda, 1963-1965. Dokter muda Aliandoe kembali ke Flores dan ditempatkan di Rumah Sakit Santa Elizabeth Lela. Setelah bekerja  4 tahun di rumah sakit ini, ia dikirim lagi oleh Misi Flores untuk melanjutkan pendidikan spesialis bedah di  De Wever Ziekenhuis, Heerlen, Belanda,1969 – 1976. Selesai meraih keahlian sebagai Dokter Spesialis Bedah, ia kembali ke RS Lela dan menjadi dokter bedah, 1976-1980.

Pindah ke RS Akademik Atma Jaya Jakarta

Selesai menjalani ikatan dinas di Lela, Dokter Aliandoe pindah ke Jakarta pada 1980 dan bekerja di rumah sakit akademik Atma Jaya sekaligus juga dosen Fakultas Kedokteran Atma Jaya hingga hingga 2009, termasuk juga pernah selama 3 tahun menjabat direktur RS Akademik Atma Jaya, Jakarta.

Selama bekerja di Jakarta, Dokter Aliandoe menjadwalkan  kunjungan rutin ke RS Lela 2x dalam setahun yaitu pada bulan Mei dan Oktober untuk melayani kesehatan masyarakat Flores di RS Lela. Pilihannya pada bulan-bulan tersebut adalah karena orang Katolik Flores menjalankan devosi kepada Bunda Maria pada bulan Mei dan Oktober dan biasanya mereka mengisinnya dengan berdoa dan berziarah ke Lela, Kota Wisung Fatima. Menurut Dr. Aliandoe, Lela adalah tempat terbaik untuk devosi kepada Bunda Maria.

Setelah memasuki usia pensiun pada 2009, Dr. Aliandoe memilih kembali ke RS Lela untuk berkarya mengisi masa pensiun dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat lewat rumah sakit ini. Cintanya kepada RS Lela sangat besar, karena di tempat inilah ia mulai merintis karir kedokterannya dan di sini pula ia menemukan pasangan hidupnya, Ibu Rosa da Lima Muga.

Pada Juli 2010 ia diangkat jadi direktur RS St. Elizabeth Lela. Akan tetapi pada 6 Maret 2011 ia jatuh sakit dan kemudian diterbangkan ke Jakarta dan setelah menjalani perawatan di RS Siloam Karawaci, Tangerang, Dokter Johanes Aliando wafat pada 9 Maret 2011 dalam usia 76 tahun 9 bulan 11 hari.

Dokter yang murah senyum, ramah, sabar dan cekatan itu telah melayani banyak orang baik di Flores maupun di Jakarta, khususnya para mahasiswa kedokteran Unika Atma Jaya. Jakarta. Di kalangan FK Atma Jaya, Dokter Aliandoe dikenal juga sebagai Dokter Misionaris karena pengabdian dan pelayannya ‘dalam sepih’ tanpa publisitas, kepada masyarakat kecil baik di Flores lewat Rumah Sakit Lela maupun di Jakarta melalui Rumah Sakit Akademik Unika Atma Jaya  (sumber: Frans Anggal/Flores Pos, 12 Maret 201, Helena Kidi Labot dalam Helena’s blog Maret 2011,publikasi Fakultas Kedokter Atma Jaya Jakarta ) @

Catatan: Artikel ini pernah dimuat dalam buku “Pater F. Cornelissen SVD – Pahlawan Pendidikan di Flores dan Nusa Tenggara Timur”, karya P. Alex Beding SVD, Penerbit Sabda, Jakarta, Sept 2019. Bagi Anda yang berminat memiliki buku ini, mohon kirim WA ke 0813 996 22840. Ans Gregory da Iry adalah editor dan kontributor tulisan untuk buku tersebut.


Editor: Farida Denura
KOMENTAR