ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Bagini Cara Mempersiapkan Anak Menghadapi Industri 4.0

06 Maret 2022
Bagini Cara Mempersiapkan Anak Menghadapi Industri 4.0
Sekolah harus mendukung siswanya untuk memahami setiap aspek Industri 4.0 . (Foto: Istimewa)

TAHUN  2021 kembali menjadi tahun yang penuh tantangan, dengan pandemi COVID-19 yang terus memberikan dampak besar bagi banyak orang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia. Meski demikian, di balik tantangan selalu ada peluang. Pandemi telah meningkatkan kecepatan perkembangan dan penerapan teknologi baru. Semakin hari kita semakin melihat peran bermanfaat dari teknologi industri 4.0 yang mengubah cara kita hidup dan terhubung dengan satu sama lain, bekerja, serta mendidik anak-anak kita.

Tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi baru ini akan mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia. Kabar baiknya, McKinsey & Company memprediksi bahwa meskipun sebanyak 23 juta pekerjaan dapat digantikan oleh otomatisasi di Indonesia hingga 2030, ada 27- 46 juta pekerjaan baru dalam bidang teknik dan creative thinking yang dapat tercipta dalam periode yang sama. Selain itu, Pemerintah Indonesia telah merancang Making Indonesia 4.0 Roadmap untuk mengimplementasikan beberapa strategi guna mendorong daya saing bangsa di Industri 4.0, salah satunya dengan meningkatkan tenaga kerja masa depan melalui pendidikan masa kini.

Di saat pemerintah dan pemimpin industri sibuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan Industri 4.0, sektor pendidikan termasuk sekolah harus memikirkan kembali pendidikan dan bagaimana mempersiapkan generasi muda untuk menangkap peluang masa depan. Siswa harus dilengkapi dengan keterampilan dan pola pikir yang tepat untuk membantu mereka berkembang di dunia kerja masa depan, menurut Lloyd Jeeves, Manajer Pengembangan Kurikulum, Cambridge International. Inilah salah satu alasan yang mendorongnya membantu mengembangkan kurikulum Komputasi terbaru untuk program Cambridge Primary and Lower Secondary.

Industri 4.0 bertopang pada konektivitas antar perangkat dan pemahaman yang berkembang tentang bagaimana konektivitas ini bekerja. Lloyd menjelaskan bahwa kurikulum komputasi baru ini akan memperkenalkan konsep tersebut kepada siswa muda. "Kurikulum Komputasi kami dirancang bagi siswa muda untuk mengembangkan keterampilan yang berkaitan dengan Industri 4.0 seperti pemrograman, pemikiran komputasi, konektivitas, dan analisis data. Kurikulum ini akan membantu mereka untuk mengenali peran ilmu komputer dalam berbagai industri, mengembangkan keterampilan ilmu komputer mereka sendiri, dan mengenali peran yang akan dijalankan oleh ilmu komputer dalam karir mereka di masa depan," jelasnya.

Lantas, mengapa penting bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan ini di usia muda? Lloyd menerangkan sangatlah penting memiliki kemampuan komputasi yang kuat saat ini, di mana semakin dini seorang anak dapat mulai membangun dan mengembangkannya, semakin siap mereka untuk pembelajaran di masa depan dan dunia kerja.

"Dengan mempelajari pemikiran komputasi dan keterampilan pemrograman sejak usia dini, siswa akan dapat mengembangkan kompetensi seperti logika dan dekomposisi secara progresif, sebelum mereka harus bersaing dengan menerapkannya dalam lingkungan profesional dan kerja. Pelajar muda akan dapat bersenang-senang dengan program yang mereka buat, sambil mengembangkan pengetahuan dan keterampilan penting yang kemudian dapat diterapkan pada konteks yang semakin kompleks sepanjang pendidikan mereka dan seterusnya."

Ia menambahkan: "Pengkodean, dan memahami perlunya presisi, juga akan membantu pelajar muda untuk memahami bagaimana segala sesuatu bekerja dan bagaimana perangkat dan mesin merespon instruksi dan input. Pengetahuan ini, terlepas dari apakah  dikembangkan di kemudian hari dalam pendidikan mereka, akan tetap membantu siswa untuk memahami hubungan antara komputer, program, dan mesin yang merupakan inti dari Industri 4.0."

Namun, Lloyd menyadari bahwa tidak semua siswa ingin menjadi ilmuwan komputer ketika mereka dewasa, tetapi ada banyak alasan mengapa anak muda akan mendapatkan keuntungan dari mempelajari ilmu komputer.

Ia mengatakan, "Walaupun mereka tidak bercita-cita menjadi ilmuwan komputer, tetapi mereka akan bekerja dalam dunia industri 4.0 saat dewasa. Karena itu, siswa muda perlu memahami hubungan antara komputer dan dunia di sekitar mereka. Hubungan ini termasuk bagaimana teknologi diterapkan pada praktik yang ada dan berkembang, serta etika dalam pengambilan keputusan terhadap penerapan teknologi. Hubungan dan pertimbangan tersebut merupakan bagian penting dari kurikulum Komputasi."

Kendati sekolah harus mendukung siswanya untuk memahami setiap aspek Industri 4.0 dengan cara yang mudah dipahami, memiliki akses ke komputer dan internet tidak selalu diperlukan untuk setiap pelajaran komputasi.

Lloyd mengatakan bahwa meskipun sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan Cambridge International di Indonesia memiliki akses yang baik ke komputer, banyak sekolah lain yang mungkin tidak memiliki banyak sumber daya. Namun, mereka masih dapat mengajarkan banyak aspek dari mata pelajaran tersebut kepada siswanya. Pelajar, sambungnya, bisa mendapatkan keuntungan dari penggunaan komputer secara bersamaan. Selain itu, setelah aplikasi seperti Scratch diunduh, sebagian besar pekerjaan di layar dapat dilakukan secara offline. Komputer mini, seperti Micro:bits, yang dapat diperoleh dengan harga relatif murah juga dapat digunakan bersama di seluruh sekolah, bersama dengan penggunaan komputer.

Ia menambahkan, "Banyak kegiatan yang dapat dilakukan tanpa komputer, terutama dalam pemikiran komputasi, jaringan dan komunikasi, dan konten sistem komputer. Mengerjakan aktivitas 'unplugged' dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa. Jika guru juga dapat menunjukkan kepada siswa contoh otomatisasi di industri lokal atau memungkinkan mereka untuk mendengar langsung dari orang-orang yang bekerja di industri ini, siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana suatu hari nanti mereka dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari di tempat kerja nanti."

Selain Komputasi, Program Cambridge Primary and Lower Secondary juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar tentang Literasi Digital. Melalui mata pelajaran terpisah ini, mereka akan belajar bagaimana menggunakan teknologi digital dengan aman dan melindungi kesejahteraan fisik dan emosional mereka sendiri sejak awal perjalanan pendidikan.

"Jika ingin anak-anak kita siap menghadapi Industri 4.0 dan menghadapi tantangan serta peluang yang akan hadir di kemudian hari, sangat penting bagi kita untuk memberikan mereka pendidikan yang menyeluruh disertai landasan yang kuat, termasuk membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan komputasi mereka dan pemahaman tentang bagaimana menggunakan teknologi digital ini secara bertanggung jawab. Kami berharap ini akan membantu mereka mengembangkan rasa keingintahuan dan semangat belajar yang abadi untuk membuat mereka siap bekerja di masa depan," tutup Lloyd.

 


Editor: Farida Denura
KOMENTAR