ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Meutia Hatta: Mahasiswa Perlu Meluruskan Prinsip-prinsip yang Tidak Sesuai dengan Pesan Konstitusi

23 November 2022
Meutia Hatta: Mahasiswa Perlu Meluruskan Prinsip-prinsip yang Tidak Sesuai dengan Pesan Konstitusi
Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, MA, Guru Besar UI memberi Kuliah Umum bertajuk Peranan Mahasiswa dalam Meneruskan Cita-Cita Pendiri Bangsa yang diselenggarakan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Ilmu Sosia UTA 45 Jakarta, Rabu (23/11/2022) di Auditorium Kampus UTA 45 Jakarta.

JAKARTA, SCHOLAE.CO  - Bung Hatta sebagai arsitek dalam Pasal 33 UUD 1945 menegaskan bahwa pembangunan nasional tidak dibiarkan tersusun sendiri. Pembangunan nasional perekonomian tidak dibiarkan tersusun sendiri, tetapi harus disusun berdasarkan kebersamaan dan asas kekeluargaan. Arah dari proses pembangunan adalah mencapai kemandirian nasional. 

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, MA, Guru Besar  Universitas Indonesia ketika memberikan Kuliah Umum bertajuk “Peranan Mahasiswa dalam Meneruskan Cita-Cita Pendiri Bangsa” yang diselenggarakan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Ilmu Sosia Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta (UTA 45 Jakarta), Rabu (23/11/2022) di Auditorium Kampus UTA 45 Jakarta.

Mahasiswa  kata Meutia perlu menyadari betapa luasnya negara dan kekayaan alam serta kekayaan sumberdaya manusia dengan kebudayaan mereka yang aneka ragam, yang merupakan aset-aset nasional. Namun kenapa rakyat kita banyak yang miskin? Kenapa begitu banyak kearifan lokal dari budaya bangsa sendiri tidak dimanfaatkan dalam pembangunan nasional di seluruh negeri ini?

“Negara kita kaya raya akan sumber-sumber alam anugerah Allah Swt. Laut dan tanah kita yang subur serta kaya akan berbagai tambang yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, tidak tergarap oleh bangsa kita sendiri. Oleh karena itu harus ada tugas belajar dan wajib belajar untuk meningkatkan kemampuan bangsa kita sendiri untuk menggarap kekayaan alam yang melimpah,”tandas Meutia.

Meutia yang juga putri proklamator Indonesia Bung Hatta mengatakan bahwa di dalam berbagai kesempatan Bung Hatta menegaskan bahwa pinjaman luar negeri untuk pembangunan nasional harus bersifat sebagai pelengkap dan sementara. Artinya pembangunan nasional harus diarahkan kepada kemandirian, dan kemandirian itu adalah keberdaulatan negara.

“Mahasiswa dengan cara kalian sendiri dalam budaya mahasiswa perlu menumbuhkan kepekaan dalam proses belajarnya di kampus untuk meluruskan prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan pesan Konstitusi dalam pengelolaan Negara,”ajak Meutia.

Meutia juga menyoroti tata kelola perekonomian saat ini yang terus mengimpor produk luar negeri.”Mahasiswa perlu menyadari keganjilan ini. Dunia kampus, bergemalah dan diskusikan keganjilan yang terjadi di bangsa ini,”kata Meutia.

Meutia yang juga mantan  Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009) mengatakan  pemerintah Indonesia di masa lalu tetap berjuang memajukan negara  dengan menetapkan peraturan perundang-undangan baru. Yang tidak boleh dilupakan mahasiswa adalah  perjuangan tokoh-tokoh cendekiawan Bangsa Indonesia mengenai  bentuk negara kita sebagai Negara Kepulauan dan sebelumnya mengenai penerapan konsep Wawasan Nusantara.

“Kalian harus mencintai Indonesia, memahami sejarah Indonesia untuk mengetahui bahwa negara kita tidak kita peroleh sebagai anugerah yang jatuh dari langit tanpa pengorbanan leluhur kita, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Karenanya kalian harus meluruskan kebijakan yang tidak sesuai dengan garis yang telah ditetapkan,”kata Meutia.

Lanjut Meutia tugas mahasiswa adalah meluruskan berbagai pemikiran, konsep, prinsip, kebijakan yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan, dilaksanakan dan dibangun oleh para pendiri negara dan Bangsa Indonesia. “Pancasila dan UUD 1945 adalah yang terbaik yang bisa disusun untuk kepentingan bangsa kita yang satu bangsa namun bersifat multicultural,”katanya.

Pesan lain yang disampaikan Meutia kepada mahasiswa adalah harus mampu mendalami ilmu mengenai kekayaan alam dan SDM Indonesia,  menjaga, merawat dan memelihara semua itu dalam upaya pelestarian dan pengembangan aset-aset alam, sosial dan budaya kita.”Mahasiswa perlu menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia, dari lingkungan yang terjangkau sampai dengan yang lebih luas,”pintanya.

Generasi Unggul

“Mahasiswa melatih diri untuk memiliki kepribadian yang lebih unggul daripada mereka yang kini mendapat tugas menjaga dan mengelola. Negara, agar Indonesia bisa lebih maju. Karakter-katerakter yang tidak mendukung, penuh keburukan, kejahatan dan kelaliman, harus bisa dihindari, karena hal itu adalah tanggung jawab kalian untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik, karena kalian akan mengisi pembangunan pada tahun 2045 kelak yang diharapkan menjadi generasi emas,”kata Meutia dihadapan 250 mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka Dalam Negeri (PMMDN) Kemendikbud Batch 2 Tahun 2022 dari berbagai kampus di Indonesia serta mahasiswa kelas Sejarah dan Kewarganegaraan UTA 45 Jakarta

Dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Pembina Yayasan UTA ’45 Jakarta, Rudyono Darsono menjelaskan bahwa kampus Universitas 17 Agustus 1945 (UTA ’45 Jakarta) merupakan kampus nasionalis kebanggaan yang tidak pernah berubah mencetak generasi muda unggulan dan terpercaya.

Rudyono menuturkan 13 tahun yang lalu dirinya mulai mengelola kampus UTA 45 Jakarta dengan memberikan pendidikan yang terbaik dengan biaya kuliah kelas rakyat.

“Saya hanya punya satu mimpi dalam mengelola kampus ini adalah bagaimana saya dapat berbakti bagi bangsa dan Negara dan bagaimana mempersiapkan generasi muda di kampus ini menjadi generasi unggul dan terpercaya dalam membangun bangsa dan Negara,”ungkapnya.

Untuk itu pinta Rudyono,”Siapkan diri kalian, 10-15 tahun mendatang, jadilah pemimpin amanah yang meneruskancita-cita bangsa ini. Mahasiswa harus jadi generasi yang unggul dan dipercaya”.

Kuliah Umum dengan Dosen Pengampu, Yanuar Rahmadan, S.IP, MA dan dipandu Dr Wagiman, SFil, SH, MH bersama Samsul Ode, S.IP, MSi pada sesi tanya jawab, para mahasiswa sangat antusias. Seperti halnya Raja Sinurat dari Unika St Thomas Medan menggugat kemiskinan yang yang terjadi dan dialami masyarakat Indonesia, padahal bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Ditanggapi Meutia dengan mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum merdeka seutuhnya.”Kita belum sepenuhnya mengisi kemerdekaan. Jangan sampai bendera merah putih diturunkan”.

“Dunia mahasiswa ini harus diisi dengan dunia kerja, dunia persahabatan. Mulai sekarang bersahabat dan satukan hati dan pikiran untuk bangun bangsa dan Negara,”pungkas Meutia.

Meutia mengingatkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia itu tercapai dengan proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. “Bagi kalian para mahasiswa, hal ini khususnya penting karena nama universitas ini adalah Universitas Tujuh Belas Agustus 1945,”ujar Meutia. 

Karena itu Meutia meminta mahasiswa UTA ’45 Jakarta harus betul-betul menguasai pengetahuan tentang perjuangan yang panjang untuk memerdekakan Indonesia dari penjajah Belanda. Berbagai buku yang terbit mengenai periode mencapai Indonesia merdeka harus menjadi bacaan rutin dari mahasiswa UTA.


Editor: Farida Denura
KOMENTAR